AKU CERITAKU IMPIANKU

Minggu, 03 November 2013

Menunggu Pelangi di Persimpangan Jalan


Dua hati riang melengkapi keceriaan senyuman pagi sang mentari. Pagi pertama masa putih abu-abu sepasang hati yang riang. Masa SMA (Sekolah Menengah Atas) di kenal sebagai masa yang tak terlupakan bagi yang beruntung. Dan bagi yang tak beruntung, masa itu adalah kiamat kecil yang tidak bisa di lipat untuk di hanguskan. Dua remaja tanggung akan melewati hari pertama belajar dengan berseragam putih abu-abu. Dua remaja ini adalah sepasang sahabat sejati. Mereka bagai gagang telepon dan kabelnya, panci dan tutupnya, serta seperti obat dan orang yang sedang sakit. Jika tidak bergabung maka mereka tidak akan berfungsi dengan baik, dengan kata lain jika sepasang sahabat ini terpisah maka mereka tidak bisa menjalani hidupnya dengan maksimal. Sepasang sahabat ini terdiri dari NAURA MUDJIADI dan MAHESA. Naura dan Hesa bersahabat dari duduk sebagai murid taman kanak-kanak. Naura, seorang cewek pandai, sederhana, dan polos. Sedangkan Hesa, cowok yang memiliki kedewasaan tanggung, cerdas, cool, dan humoris. Mereka memperlihatkan sisi kepandaian mereka ketika di depan umum. Namun ketika menikmati waktu hanya berdua sebagai sahabat, mereka menjadi seorang yang terlewat bodoh untuk menciptakan kebersamaan yang berkualitas bagi mereka.
Meski selalu bersama, posisi Naura dan Hesa di lingkungan tidak sederajat. Hesa memiliki kadar popularitas yang tinggi, sangat di agung-agungkan cewek-cewek karena kepandaian dalam memainkan rumus-rumus ilmu eksak dan senar-senar gitar, wajah charming dan sikap cool yang membuat banyak hati meleleh ketika berpapasan dengan Hesa. Sedangkan Naura hanya murid biasa yang di ketahui keberadaannya sebagai jawara olimpiade sains dan kurir kado untuk Hesa dari para penggemarnya. Hal itu terjadi karena Naura tak berwajah charming dan berpenampilan modis ikuti zaman. Tidak hanya selalu satu sekolah dari taman kanak-kanak, tapi Hesa dan Naura selalu satu kelas.
“sa, enak banget kamu. Dari SD sampai SMA kehujanan kado mulu.” Gerutu Naura yang duduk di sebelah Hesa sambil menarikan telunjuk kanannya ke kanan ke kiri untuk menghitung banyaknya kado dari penggemar Hesa.
“yaelah, jatah ku kan mesti kamu embat. Pakai basa-basi lagi. Dari dulu kan kado buat aku, aku langsung setor semua ke kamu.” Balas Hesa
Naura selalu iri melihat Hesa yang selalu terhujani banyak perhatian dari banyak hati. Sedangkan Naura,tak satu kali pun dia di jatuhi indahnya rasa sayang dari hati yang tulus. Naura belum pernah merasakan manisnya cinta monyet yang sering dia dengar dari teman-temannya. Saat penutupan MOS (Masa Orientasi Siswa), perhatian Naura tersandung oleh seorang cowok yang memegang gitar dan bernyanyi akustik di panggung. Tapi Naura segera mengubur perasaan singkatnya pada cowok itu karena dia sadar seberapa berkualitasnya dia dan seberapa berkualitasnya cowok itu.
Seminggu sudah mereka berseragam abu-abu. Hesa mendapatkan sebuah surat bersampul merah jambu bermotif hati dari cewek yang merupakan kakak kelasnya yang seorang ketua cheers. Hesa belum sama sekali mengikat komitmen dengan cewek meskipun penggemarnya sudah berjibun. Naura terlihat sangat iri melihat Hesa di tembak oleh ketua cheers yang terkenal cantik seantero sekolah. Bapak tukang sapu sekolah saja ternganga melihat si ketua cheers lewat. Naura mencoba memancing Hesa membahas surat cinta itu. Namun Hesa hanya menggeleng dan memasukkan surat tersebut dalam tasnya.
Hesa tak ingin mengikat komitmen dengan seseorang yang menyayanginya karena nafsu dan ambisi. Hesa sadar bahwa ketua cheers tersebut menembak untuk memamerkan kualitasnya kepada umum bahwa dia bisa mendapatkan yang terbaik -Hesa-. Dia berambisi untuk memiliki seseorang yang populer dan luar biasa karena dia terbiasa di lambungkan dengan pujian oleh banyak mulut. Si ketua cheers tersebut berpikir bahwa orang yang terbaik harus berpasangan dengan yang terbaik. Dia tidak perduli dengan perasaan, yang di butuhkan hanya pengakuan dari umum. Padahal, yang terbaik belum tentu yang paling menonjol dan di lambungkan oleh pujian semu.
Malam harinya, Naura pergi ke taman kerlip sendirian ,tempat di mana dia dan Hesa melihat segerombolan bintang di langit gelap. Naura merenungi hidupnya. Dia ingin mengalami cinta seperti yang sering di celotehkan teman-temannya dan ingin hadirnya perubahan yang indah di cerita hidupnya. Hesa yang tidak sengaja melewati taman kerlip dan melihat Naura duduk, mendongak dan menunjuk langit, berencana mengejutkan Naura diam-diam. Tiba-tiba Naura melihat ada bintang jatuh lalu spontan menengadahkan telapak tangan, memejamkan mata sejenak dan berkomat-kamit mengutarakan impiannya pada sang bintang jatuh. Hesa yang berada di belakang Naura, merekam apa yang di komat-kamitkan Naura;
“bintang yang barusan jatuh. Kamu jatuh untuk menemui Tuhan kan? Aku nitip doa ya. Tolong sampaikan kalau aku pengen bahagia lebih dari sekarang, pengen keluar dari hal biasa-biasa saja yang telah menempel di hidup dan diriku selama ini, dan yang terakhir pengen menjalani cinta pertama ku bersama orang yang tulus. Amin”
Naura bergegas berdiri dari duduknya dan pulang karena malam gelap sudah menjemput. Hesa langsung mengambil posisi untuk sembunyi di balik semak-semak agar Naura tidak mengetahui keberadaannya. Karena terburu-buru, Hesa bersembunyi di semak-semak berserangga yang tepat berada di sebelah kanan dari tempatnya berdiri. Hesa terus menggaruk tubuhnya sepanjang jalan menuju pulang. Akibatnya, Hesa ke sekolah dengan bentol-bentol merah di seluruh mukanya. Naura terkekeh saat melihat wajah Hesa penuh dengan bentol merah. Naura buru-buru ke UKS untuk mengambilkan salep buat Hesa.
Naura masih terus tertawa sambil berjalan menuju UKS. Akibatnya, Naura menabrak seseorang yang baru saja keluar dari ruang musik milik ekskul band yang berada tepat di samping UKS. Naura spontan mengangguk-anggukan kepalanya sambil meminta maaf di depan orang yang dia tabrak. Ketika mengangkat muka dan memalingkan pandangan tepat ke wajah orang yang dia tabrak, Naura ternganga dan terkejut. Orang yang di tabrak itu adalah cowok yang sempat membuatnya tersirap karena permainan gitar akustik dan suara nyanyiannya di acara penutupan MOS. Naura mati gaya dan hanya bisa menunggu hujatan dari cowok di depannya itu. Seperti yang sering di gambarkan di sinetron-sinetron, orang dengan penampilan buruk tipis untuk mendapat keadilan sekalipun dia benar. Kasus Naura ini, dia bersalah dan dia tidak cukup baik penampilan. Diam dan mendengarkan di hujat beberapa menit kemungkinan besar akan terjadi.
“kamu nggak apa-apa? Maaf ya.” Kata si cowok bergitar itu.
“hah, dia nanya kondisi ku dan minta maaf? Kan aku yang salah. Salah dengar aku nih kayaknya.” Gerutu Naura dalam hati.
Naura hanya membalas kalimat si cowok dengan sebuah kata maaf dan anggukan kepala kemudian pergi ke UKS. Naura mengatur nafasnya agar normal kembali setelah sempat jantungnya berdetak tak teratur  ketika berhadapan dengan cowok bergitar itu. Setelah mengambil salep untuk Hesa, Naura keluar dari UKS dan kembali ke kelas. Naura memberikan salep pada Hesa sambil tersenyum kecil dengan ekspresi tak sadar akan sekitar karena hatinya melambung bahagia. Hesa berusaha mengembalikan Naura kembali normal karena takut melihat Naura terus tersenyum kecil sendirian. Naura beranjak dari bangku Hesa dan keluar kelas tak menggubris Hesa sedikitpun. Hesa yang penasaran dengan tingkah aneh Naura, mengikuti Naura dari belakang. Naura ternyata pergi keluar kelas untuk mencari si cowok bergitar tadi. Naura temukan si cowok bergitar itu di depan kelas XI A yang merupakan kelas cowok itu. Naura tak berkedip menguntit kegiatan cowok itu. Hesa berpikiran jika Naura menggali kembali perasaannya yang sempat dia kubur seminggu yang lalu. Hesa tak tahan ingin tahu apa yang dilakukan Naura. Hesa menepuk bahu Naura dan menarik tangannya untuk meminta Naura menceritakan apa yang sedang dia intip dan awasi.
“ aku jatuh cinta. Aku ingin mengejar apa yang seharusnya bisa aku dapatkan.”  Tegas Naura singkat dan kemudian beranjak kembali ke kelas.
(Tet....tet..tet... )Bel masuk pelajaran berdering. Hesa memperhatikan Naura dan kalimat singkatnya tadi. Tak biasanya Naura berkata dan berekspresi dengan penuh serius. Malam harinya, Hesa bertandang ke rumah Naura untuk menanyakan maksud kalimat Naura di sekolah tadi. Adik Naura, Naomi, bilang pada Hesa jika Naura pergi sejak sore tadi. Hesa menunggu Naura di teras rumah Naura selama dua jam. Tapi Naura tak kunjung pulang. Hesa memutuskan pulang dan bertanya di sekolah saja. Setelah tingkah Naura berubah serius dan terlihat ada yang Naura sembunyikan itu, hari-hari Naura dan Hesa tak berlangsung seperti biasa. Naura sulit di temui dan di ajak berkomunikasi. Naura menghabiskan waktu luangnya untuk bergabung dengan tim UKS sekolah dan ekskul musik tradisional. Hesa yang paham dengan Naura, tak tahan melihat tingkah Naura yang berubah total. Hesa paham bahwa Naura tak begitu suka bergabung dengan ekskul yang berbau kesehatan, sibuk seharian penuh dengan latihan, dan yang paling mengejutkan Naura telah jarang mengurusi kegiatannya di ekskul olimpiade sains. Naura tampak bersinar ketika menghadapi soal-soal olimpiade sains, tapi kini Hesa melihatnya membuang sinarnya dan berubah menjadi biasa saja.
Hesa memutuskan untuk menyelidiki Naura. Hari pertama, Hesa mengikuti setiap perpindahan aktivitas Naura di sekolah sampai di rumah. Berlangsung seperti itu sampai tiga hari. Saat Naura ke kamar mandi, dia tak sengaja mendengar obrolan beberapa cewek yang membicarakan tentang perubahan demi cinta. Salah seorang yang sedang berbicara tersebut sedang memperbaiki penampilannya demi seorang yang sedang membuatnya tidur tidak nyenyak karena cinta. Naura memikirkan untuk merubah penampilan udiknya agar terlihat setara dengan si cowok bergitar yang modis itu. Sepulang sekolah, Naura mampir ke Mall dekat rumahnya untuk membeli majalah fashion remaja dan mengidentifikasi gaya-gaya berpakaian remaja sekarang. Ada Naura pasti ada Hesa di belakang yang membuntutinya diam-diam. Sepulang dari Mall, Naura mencoba-coba mempermak wajahnya dengan polesan make up ala korea yang di dapatnya dari membaca majalah remaja yang baru di belinya. Dan berhasil. Wajah udik Naura terlihat jauh seperti seorang remaja sekarang. Setiap harinya, Hesa masih mengikuti kegiatan Naura, baik di sekolah dan di luar sekolah. Hesa merelakan aktivitasnya di ekskul band terhalang demi kembali normalnya Naura. Dari penyelidikannya, Hesa meyakini jika Naura berubah buat si cowok bergitar itu. Karena Hesa sering mendapati Naura mengendap-endap menagmati segala aktivitas si cowok bergitar itu. Si cowok bergitar ternyata bergabung dengan ekskul yang sama dengan Hesa, ekskul band. Sedikit banyak Hesa mengenal cowok berwajah ramah bernama Fathan itu. Fathan memang cowok ganteng berhati baik. Fathan bertingkah tidak seperti anak band berwajah ganteng lainnya yang selalu mengejar popularitas dan obsesi untuk memiliki segala yang terbaik yang ada di sekolah. Namun Hesa tahu jika Fathan hanya menyimpan satu nama dalam hatinya. Pemilik hati Fathan adalah Faida yang merupakan teman kecilnya yang kini tinggal di kota yang berbeda dengan Fathan. Hesa mengetahui hal tersebut karena Fathan sering bercerita tentang Faida selama mereka menjalani kegiatan ekskulnya bersama. Dua bulan berlalu, Naura benar-benar berubah. Naura pergi ke sekolah dengan kawat gigi dengan pernik merah jambu menempel di sana ,sebuah kacamata dengan bingkai berwarna pastel menutupi dua mata bulatnya, dan polesan ala korea hasilnya memplagiat sebuah rubrik dari majalah remaja. Hesa benar-benar sudah tidak tahan dan tidak bisa diam lagi melihat tingkah Naura yang terlewat berubah. Hesa kecewa melihat perubahan Naura yang membuatnya kehilangan Naura yang bersinar dengan kesederhanaannya.
“ kamu?” Hesa bertanya dengan kening berkerut karena heran
“kamu nggak ngenalin aku ,Sa? Aku Naura.” Balasnya senang.
“kenapa tuh ada kawat gigi, kaca mata, sama make up?  Kayaknya yang minus bukan mata kamu, tapi hati sama pikiran kamu. Berubah jadi model cewek zaman sekarang. Buat siapa kamu kayak gini? Kamu udah keterlaluan sama diri kamu sendiri akhir-akhir ini. Ninggalin ekskul olimpiade yang merupakan jalan kamu mendapatkan prestasi, pakai kacamata meskipun mata kamu baik-baik saja, pakai kawat meskipun gigi kamu tidak bermasalah, dan sudah lupa dengan persahabatan kita. Aku kecewa Ra sama kamu.” Teriak Hesa di depan kelas.
Naura berpikir sejenak dan kemudian mengejar Hesa. Naura berusaha mencari penjelasan dari teriakan Hesa saat itu. Hesa kemudian mengatakan jika akhir-akhir ini dia menyelidiki Naura diam-diam atas keganjilan Naura yang tiba-tiba. Hesa menjelaskan pada Naura jika dia memilih untuk menyelidiki daripada meminta penjelasan dari Naura secara langsung karena Hesa melihat Naura yang saat itu dia lihat bukan Naura yang dulu selalu percaya dengannya dan menumpahkan segala cerita hidupnya. Hesa juga mengatakan kenyataan tentang Fathan yang hanya menyimpan satu nama dalam hatinya. Fathan ternyata ramah dan sangat menerima Naura karena Fathan mengetahui sebuah rahasia antara Naura dan Hesa yang selama ini hanya Hesa dan Fathan yang tahu. Hesa memilih untuk tetap menyimpan rahasia tersebut sampai Naura kembali menjadi Naura yang dia kenal.
Seminggu berlalu, Naura dan Hesa tak berkomunikasi sebaik dulu. Naura sering menyendiri untuk mendapatkan jalan yang terbaik dari segala yang telah terjadi akhir-akhir ini. Bagai pelangi, Naura ingin mendapat bahagianya setelah berusaha melakukan berbagai usaha yang sedikit membuatnya ada di kondisi sulit dan sedih. Dia merasa selama ini hidup dengan biasa-biasa saja. Naura pernah memutuskan untuk berbelok ke kiri. Namun menyeberang ke jalan tersebut dengan melakukan usaha keras merubah total dirinya menjadi orang lain demi mendapatkan cinta yang tulus dan pengakuan menjadi tapakan yang kurang tepat. Dan ketika pengakuan telah di dapat, dia tak menemukan ketulusan yang jujur. Naura ingin berbelok ke kanan untuk menemui sang pelangi, kebahagiaan setelah bersedih lama, tanpa menjadi orang lain dan tetap menemukan ketulusan yang jujur meskipun tak menemukan pengakuan. Di tengah kalutnya pikiran Naura, saat jam istirahat di kantin sekolah, Fathan melihat Naura duduk di gazebo pojok kanan kantin sekolah. Fathan mendekati Naura untuk menyampaikan sesuatu.
“hai Naura. Sendirian?” sapa Fathan
“iya kak Fathan.” Singkat Balasan Naura
“ada yang perlu kamu tahu tentang mengapa Hesa bersikap seperti itu ke kamu beberapa waktu yang lalu.” Kata Fathan tenang.
Ya, Fathan memutuskan untuk menceritakan segala yang telah Hesa sembunyikan dari Naura yang telah di ketahuinya. Ternyata selama ini Hesa tak lagi mempunyai rasa sahabat pada Naura. Rasa itu bukan menghilang namun berkembang menjadi rasa cinta seorang pria pada wanita. Naura terheran dan tidak tahu harus berekspresi apa. Fathan bercerita pada Naura jika Hesa bahagia selalu berkesempatan berada di setting yang sama dengan Naura. Karena dengan begitu, Hesa dapat menjaga Naura dengan lebih baik. Naura juga yang merupakan alasan Hesa tidak membuka hati untuk nama lain. Hesa tulus pada Naura, hanya memberi tak harap kembali. Hesa tidak memaksa cintanya terbalas. Hesa hanya ingin melihat Naura bahagia dan terus tersenyum bersamanya karena kasih cintanya yang tulus.
“kamu beruntung, kamu punya Hesa yang sangat tulus menjaga kamu agar tetap bahagia. Semoga kalian mendapat kebahagiaan kalian.” Kata Fathan sambil tersenyum.
Naura tertegun dengan sedikit raut menyesal bertengger di wajahnya setelah mendengar penjelasan Fathan. Naura tidak sadar bahwa dia sudah mendapatkan cinta yang tulus dari seorang Hesa. Malam harinya, Naura memutuskan untuk menemui Hesa di rumahnya. Setelah beberapa kali memencet bel, seorang wanita paruh baya berkerudung membukakan pintu rumah Hesa untuk Naura. Wanita tersebut adalah Ibu Hesa. Naura di izinkan untuk langsung menuju kamar Hesa oleh Ibu Hesa. Ketika sampai di depan kamar Hesa, Naura mengatur nafas sebelum meluruskan dan membicarakan apa yang seharusnya benar. Beberapa kali mengetok pintu kamar Hesa, tak ada suara yang menjawab Naura.
“ sa, aku tahu kamu pasti kecewa sama aku. Aku minta maaf akhir-akhir ini jahatin persahabatan kita. Tadi kak Fathan sampaikan sesuatu yang udah lama kamu rahasiain dari aku. Aku mau dengar langsung dari kamu,Sa. Sekedar kamu tahu, aku ke sini karena aku takut kehilangan kamu. Aku tidak tahan berlama-lama mengizinkan kamu absen dari hidup aku. Sa, baikan yuk! Hesa..”  Kata Naura mencoba menarik hati Hesa kembali padanya.
Saat Naura memutuskan untuk berbalik pulang karena tak mendengar suara apapun dari balik pintu kamar Hesa, matanya menangkap Hesa tersenyum di belakangnya. Ternyata Hesa sedang tidak di kamar namun ada di belakangnya ketika Naura memberikan penjelasan.
“kamu udah tau semua yang ada di pikiran sama hatiku dari Fathan kan? Pacaran yuk?” kata Hesa mendekati Naura yang hampir terjatuh sedih dengan senyuman termanisnya.
Naura dengan yakin langsung mengiyakan ajakan Hesa. Mereka tersenyum lega. Naura mendapatkan cinta tulusnya dan Hesa akhirnya mendapatkan Naura, cinta pertama yang membuatnya mengerti tentang indahnya seorang wanita sederhana yang bersinar karena keindahan hatinya.

Setelah lama berdiri di persimpangan jalan, mendapati dua jalan keluar yang berbeda atas satu masalah hidup yang sama, akhirnya Naura mendapatkan pelanginya yang telah lama bersembunyi di balik gumpalan awan. Naura mendapatkan Hesa yang sempat terkalahkan oleh hadirnya Fathan yang terlihat jauh lebih baik di mata polos Naura. Tanpa perubahan yang di buat-buat pun, cinta tulus yang telah di sediakan Tuhan dapat di genggam dengan bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar