Dua
hati riang melengkapi keceriaan senyuman pagi sang mentari. Pagi pertama masa
putih abu-abu sepasang hati yang riang. Masa SMA (Sekolah Menengah Atas) di
kenal sebagai masa yang tak terlupakan bagi yang beruntung. Dan bagi yang tak
beruntung, masa itu adalah kiamat kecil yang tidak bisa di lipat untuk di
hanguskan. Dua remaja tanggung akan melewati hari pertama belajar dengan berseragam
putih abu-abu. Dua remaja ini adalah sepasang sahabat sejati. Mereka bagai
gagang telepon dan kabelnya, panci dan tutupnya, serta seperti obat dan orang
yang sedang sakit. Jika tidak bergabung maka mereka tidak akan berfungsi dengan
baik, dengan kata lain jika sepasang sahabat ini terpisah maka mereka tidak
bisa menjalani hidupnya dengan maksimal. Sepasang sahabat ini terdiri dari
NAURA MUDJIADI dan MAHESA. Naura dan Hesa bersahabat dari duduk sebagai murid
taman kanak-kanak. Naura, seorang cewek pandai, sederhana, dan polos. Sedangkan
Hesa, cowok yang memiliki kedewasaan tanggung, cerdas, cool, dan humoris. Mereka memperlihatkan sisi kepandaian mereka
ketika di depan umum. Namun ketika menikmati waktu hanya berdua sebagai sahabat,
mereka menjadi seorang yang terlewat bodoh untuk menciptakan kebersamaan yang
berkualitas bagi mereka.
Meski
selalu bersama, posisi Naura dan Hesa di lingkungan tidak sederajat. Hesa memiliki
kadar popularitas yang tinggi, sangat di agung-agungkan cewek-cewek karena
kepandaian dalam memainkan rumus-rumus ilmu eksak dan senar-senar gitar, wajah charming dan sikap cool yang membuat banyak hati meleleh ketika berpapasan dengan
Hesa. Sedangkan Naura hanya murid biasa yang di ketahui keberadaannya sebagai
jawara olimpiade sains dan kurir kado untuk Hesa dari para penggemarnya. Hal
itu terjadi karena Naura tak berwajah charming
dan berpenampilan modis ikuti zaman. Tidak hanya selalu satu sekolah dari taman
kanak-kanak, tapi Hesa dan Naura selalu satu kelas.
“sa,
enak banget kamu. Dari SD sampai SMA kehujanan kado mulu.” Gerutu Naura yang
duduk di sebelah Hesa sambil menarikan telunjuk kanannya ke kanan ke kiri untuk
menghitung banyaknya kado dari penggemar Hesa.
“yaelah,
jatah ku kan mesti kamu embat. Pakai basa-basi lagi. Dari dulu kan kado buat
aku, aku langsung setor semua ke kamu.” Balas Hesa
Naura
selalu iri melihat Hesa yang selalu terhujani banyak perhatian dari banyak hati.
Sedangkan Naura,tak satu kali pun dia di jatuhi indahnya rasa sayang dari hati
yang tulus. Naura belum pernah merasakan manisnya cinta monyet yang sering dia
dengar dari teman-temannya. Saat penutupan MOS (Masa Orientasi Siswa),
perhatian Naura tersandung oleh seorang cowok yang memegang gitar dan bernyanyi
akustik di panggung. Tapi Naura segera mengubur perasaan singkatnya pada cowok
itu karena dia sadar seberapa berkualitasnya dia dan seberapa berkualitasnya
cowok itu.
Seminggu
sudah mereka berseragam abu-abu. Hesa mendapatkan sebuah surat bersampul merah
jambu bermotif hati dari cewek yang merupakan kakak kelasnya yang seorang ketua
cheers. Hesa belum sama sekali
mengikat komitmen dengan cewek meskipun penggemarnya sudah berjibun. Naura
terlihat sangat iri melihat Hesa di tembak oleh ketua cheers yang terkenal cantik seantero sekolah. Bapak tukang sapu
sekolah saja ternganga melihat si ketua cheers
lewat. Naura mencoba memancing Hesa membahas surat cinta itu. Namun Hesa hanya
menggeleng dan memasukkan surat tersebut dalam tasnya.
Hesa
tak ingin mengikat komitmen dengan seseorang yang menyayanginya karena nafsu
dan ambisi. Hesa sadar bahwa ketua cheers tersebut menembak untuk memamerkan
kualitasnya kepada umum bahwa dia bisa mendapatkan yang terbaik -Hesa-. Dia
berambisi untuk memiliki seseorang yang populer dan luar biasa karena dia terbiasa
di lambungkan dengan pujian oleh banyak mulut. Si ketua cheers tersebut berpikir bahwa orang yang terbaik harus berpasangan
dengan yang terbaik. Dia tidak perduli dengan perasaan, yang di butuhkan hanya
pengakuan dari umum. Padahal, yang terbaik belum tentu yang paling menonjol dan
di lambungkan oleh pujian semu.
Malam
harinya, Naura pergi ke taman kerlip sendirian ,tempat di mana dia dan Hesa
melihat segerombolan bintang di langit gelap. Naura merenungi hidupnya. Dia
ingin mengalami cinta seperti yang sering di celotehkan teman-temannya dan
ingin hadirnya perubahan yang indah di cerita hidupnya. Hesa yang tidak sengaja
melewati taman kerlip dan melihat Naura duduk, mendongak dan menunjuk langit,
berencana mengejutkan Naura diam-diam. Tiba-tiba Naura melihat ada bintang
jatuh lalu spontan menengadahkan telapak tangan, memejamkan mata sejenak dan
berkomat-kamit mengutarakan impiannya pada sang bintang jatuh. Hesa yang berada
di belakang Naura, merekam apa yang di komat-kamitkan Naura;
“bintang
yang barusan jatuh. Kamu jatuh untuk menemui Tuhan kan? Aku nitip doa ya. Tolong
sampaikan kalau aku pengen bahagia lebih dari sekarang, pengen keluar dari hal
biasa-biasa saja yang telah menempel di hidup dan diriku selama ini, dan yang
terakhir pengen menjalani cinta pertama ku bersama orang yang tulus. Amin”
Naura
bergegas berdiri dari duduknya dan pulang karena malam gelap sudah menjemput.
Hesa langsung mengambil posisi untuk sembunyi di balik semak-semak agar Naura
tidak mengetahui keberadaannya. Karena terburu-buru, Hesa bersembunyi di
semak-semak berserangga yang tepat berada di sebelah kanan dari tempatnya
berdiri. Hesa terus menggaruk tubuhnya sepanjang jalan menuju pulang.
Akibatnya, Hesa ke sekolah dengan bentol-bentol merah di seluruh mukanya. Naura
terkekeh saat melihat wajah Hesa penuh dengan bentol merah. Naura buru-buru ke
UKS untuk mengambilkan salep buat Hesa.
Naura
masih terus tertawa sambil berjalan menuju UKS. Akibatnya, Naura menabrak
seseorang yang baru saja keluar dari ruang musik milik ekskul band yang berada
tepat di samping UKS. Naura spontan mengangguk-anggukan kepalanya sambil
meminta maaf di depan orang yang dia tabrak. Ketika mengangkat muka dan
memalingkan pandangan tepat ke wajah orang yang dia tabrak, Naura ternganga dan
terkejut. Orang yang di tabrak itu adalah cowok yang sempat membuatnya tersirap
karena permainan gitar akustik dan suara nyanyiannya di acara penutupan MOS.
Naura mati gaya dan hanya bisa menunggu hujatan dari cowok di depannya itu. Seperti
yang sering di gambarkan di sinetron-sinetron, orang dengan penampilan buruk
tipis untuk mendapat keadilan sekalipun dia benar. Kasus Naura ini, dia
bersalah dan dia tidak cukup baik penampilan. Diam dan mendengarkan di hujat
beberapa menit kemungkinan besar akan terjadi.
“kamu
nggak apa-apa? Maaf ya.” Kata si cowok bergitar itu.
“hah,
dia nanya kondisi ku dan minta maaf? Kan aku yang salah. Salah dengar aku nih
kayaknya.” Gerutu Naura dalam hati.
Naura
hanya membalas kalimat si cowok dengan sebuah kata maaf dan anggukan kepala
kemudian pergi ke UKS. Naura mengatur nafasnya agar normal kembali setelah
sempat jantungnya berdetak tak teratur ketika berhadapan dengan cowok bergitar itu.
Setelah mengambil salep untuk Hesa, Naura keluar dari UKS dan kembali ke kelas.
Naura memberikan salep pada Hesa sambil tersenyum kecil dengan ekspresi tak
sadar akan sekitar karena hatinya melambung bahagia. Hesa berusaha
mengembalikan Naura kembali normal karena takut melihat Naura terus tersenyum
kecil sendirian. Naura beranjak dari bangku Hesa dan keluar kelas tak
menggubris Hesa sedikitpun. Hesa yang penasaran dengan tingkah aneh Naura,
mengikuti Naura dari belakang. Naura ternyata pergi keluar kelas untuk mencari
si cowok bergitar tadi. Naura temukan si cowok bergitar itu di depan kelas XI A
yang merupakan kelas cowok itu. Naura tak berkedip menguntit kegiatan cowok
itu. Hesa berpikiran jika Naura menggali kembali perasaannya yang sempat dia
kubur seminggu yang lalu. Hesa tak tahan ingin tahu apa yang dilakukan Naura.
Hesa menepuk bahu Naura dan menarik tangannya untuk meminta Naura menceritakan
apa yang sedang dia intip dan awasi.
“
aku jatuh cinta. Aku ingin mengejar apa yang seharusnya bisa aku
dapatkan.” Tegas Naura singkat dan
kemudian beranjak kembali ke kelas.
(Tet....tet..tet...
)Bel masuk pelajaran berdering. Hesa memperhatikan Naura dan kalimat singkatnya
tadi. Tak biasanya Naura berkata dan berekspresi dengan penuh serius. Malam
harinya, Hesa bertandang ke rumah Naura untuk menanyakan maksud kalimat Naura
di sekolah tadi. Adik Naura, Naomi, bilang pada Hesa jika Naura pergi sejak
sore tadi. Hesa menunggu Naura di teras rumah Naura selama dua jam. Tapi Naura
tak kunjung pulang. Hesa memutuskan pulang dan bertanya di sekolah saja. Setelah
tingkah Naura berubah serius dan terlihat ada yang Naura sembunyikan itu,
hari-hari Naura dan Hesa tak berlangsung seperti biasa. Naura sulit di temui
dan di ajak berkomunikasi. Naura menghabiskan waktu luangnya untuk bergabung
dengan tim UKS sekolah dan ekskul musik tradisional. Hesa yang paham dengan
Naura, tak tahan melihat tingkah Naura yang berubah total. Hesa paham bahwa
Naura tak begitu suka bergabung dengan ekskul yang berbau kesehatan, sibuk
seharian penuh dengan latihan, dan yang paling mengejutkan Naura telah jarang
mengurusi kegiatannya di ekskul olimpiade sains. Naura tampak bersinar ketika
menghadapi soal-soal olimpiade sains, tapi kini Hesa melihatnya membuang
sinarnya dan berubah menjadi biasa saja.
Hesa
memutuskan untuk menyelidiki Naura. Hari pertama, Hesa mengikuti setiap
perpindahan aktivitas Naura di sekolah sampai di rumah. Berlangsung seperti itu
sampai tiga hari. Saat Naura ke kamar mandi, dia tak sengaja mendengar obrolan
beberapa cewek yang membicarakan tentang perubahan demi cinta. Salah seorang
yang sedang berbicara tersebut sedang memperbaiki penampilannya demi seorang
yang sedang membuatnya tidur tidak nyenyak karena cinta. Naura memikirkan untuk
merubah penampilan udiknya agar terlihat setara dengan si cowok bergitar yang
modis itu. Sepulang sekolah, Naura mampir ke Mall dekat rumahnya untuk membeli
majalah fashion remaja dan mengidentifikasi gaya-gaya berpakaian remaja
sekarang. Ada Naura pasti ada Hesa di belakang yang membuntutinya diam-diam.
Sepulang dari Mall, Naura mencoba-coba mempermak wajahnya dengan polesan make
up ala korea yang di dapatnya dari membaca majalah remaja yang baru di belinya.
Dan berhasil. Wajah udik Naura terlihat jauh seperti seorang remaja sekarang. Setiap
harinya, Hesa masih mengikuti kegiatan Naura, baik di sekolah dan di luar sekolah.
Hesa merelakan aktivitasnya di ekskul band terhalang demi kembali normalnya
Naura. Dari penyelidikannya, Hesa meyakini jika Naura berubah buat si cowok
bergitar itu. Karena Hesa sering mendapati Naura mengendap-endap menagmati
segala aktivitas si cowok bergitar itu. Si cowok bergitar ternyata bergabung dengan
ekskul yang sama dengan Hesa, ekskul band. Sedikit banyak Hesa mengenal cowok berwajah
ramah bernama Fathan itu. Fathan memang cowok ganteng berhati baik. Fathan
bertingkah tidak seperti anak band berwajah ganteng lainnya yang selalu
mengejar popularitas dan obsesi untuk memiliki segala yang terbaik yang ada di
sekolah. Namun Hesa tahu jika Fathan hanya menyimpan satu nama dalam hatinya.
Pemilik hati Fathan adalah Faida yang merupakan teman kecilnya yang kini
tinggal di kota yang berbeda dengan Fathan. Hesa mengetahui hal tersebut karena
Fathan sering bercerita tentang Faida selama mereka menjalani kegiatan
ekskulnya bersama. Dua bulan berlalu, Naura benar-benar berubah. Naura pergi ke
sekolah dengan kawat gigi dengan pernik merah jambu menempel di sana ,sebuah
kacamata dengan bingkai berwarna pastel menutupi dua mata bulatnya, dan polesan
ala korea hasilnya memplagiat sebuah rubrik dari majalah remaja. Hesa benar-benar
sudah tidak tahan dan tidak bisa diam lagi melihat tingkah Naura yang terlewat
berubah. Hesa kecewa melihat perubahan Naura yang membuatnya kehilangan Naura
yang bersinar dengan kesederhanaannya.
“
kamu?” Hesa bertanya dengan kening berkerut karena heran
“kamu
nggak ngenalin aku ,Sa? Aku Naura.” Balasnya senang.
“kenapa
tuh ada kawat gigi, kaca mata, sama make up?
Kayaknya yang minus bukan mata kamu, tapi hati sama pikiran kamu.
Berubah jadi model cewek zaman sekarang. Buat siapa kamu kayak gini? Kamu udah
keterlaluan sama diri kamu sendiri akhir-akhir ini. Ninggalin ekskul olimpiade
yang merupakan jalan kamu mendapatkan prestasi, pakai kacamata meskipun mata
kamu baik-baik saja, pakai kawat meskipun gigi kamu tidak bermasalah, dan sudah
lupa dengan persahabatan kita. Aku kecewa Ra sama kamu.” Teriak Hesa di depan
kelas.
Naura
berpikir sejenak dan kemudian mengejar Hesa. Naura berusaha mencari penjelasan
dari teriakan Hesa saat itu. Hesa kemudian mengatakan jika akhir-akhir ini dia
menyelidiki Naura diam-diam atas keganjilan Naura yang tiba-tiba. Hesa
menjelaskan pada Naura jika dia memilih untuk menyelidiki daripada meminta
penjelasan dari Naura secara langsung karena Hesa melihat Naura yang saat itu
dia lihat bukan Naura yang dulu selalu percaya dengannya dan menumpahkan segala
cerita hidupnya. Hesa juga mengatakan kenyataan tentang Fathan yang hanya
menyimpan satu nama dalam hatinya. Fathan ternyata ramah dan sangat menerima
Naura karena Fathan mengetahui sebuah rahasia antara Naura dan Hesa yang selama
ini hanya Hesa dan Fathan yang tahu. Hesa memilih untuk tetap menyimpan rahasia
tersebut sampai Naura kembali menjadi Naura yang dia kenal.
Seminggu
berlalu, Naura dan Hesa tak berkomunikasi sebaik dulu. Naura sering menyendiri
untuk mendapatkan jalan yang terbaik dari segala yang telah terjadi akhir-akhir
ini. Bagai pelangi, Naura ingin mendapat bahagianya setelah berusaha melakukan berbagai
usaha yang sedikit membuatnya ada di kondisi sulit dan sedih. Dia merasa selama
ini hidup dengan biasa-biasa saja. Naura pernah memutuskan untuk berbelok ke
kiri. Namun menyeberang ke jalan tersebut dengan melakukan usaha keras merubah
total dirinya menjadi orang lain demi mendapatkan cinta yang tulus dan
pengakuan menjadi tapakan yang kurang tepat. Dan ketika pengakuan telah di
dapat, dia tak menemukan ketulusan yang jujur. Naura ingin berbelok ke kanan
untuk menemui sang pelangi, kebahagiaan setelah bersedih lama, tanpa menjadi
orang lain dan tetap menemukan ketulusan yang jujur meskipun tak menemukan
pengakuan. Di tengah kalutnya pikiran Naura, saat jam istirahat di kantin
sekolah, Fathan melihat Naura duduk di gazebo pojok kanan kantin sekolah.
Fathan mendekati Naura untuk menyampaikan sesuatu.
“hai
Naura. Sendirian?” sapa Fathan
“iya
kak Fathan.” Singkat Balasan Naura
“ada
yang perlu kamu tahu tentang mengapa Hesa bersikap seperti itu ke kamu beberapa
waktu yang lalu.” Kata Fathan tenang.
Ya,
Fathan memutuskan untuk menceritakan segala yang telah Hesa sembunyikan dari
Naura yang telah di ketahuinya. Ternyata selama ini Hesa tak lagi mempunyai
rasa sahabat pada Naura. Rasa itu bukan menghilang namun berkembang menjadi
rasa cinta seorang pria pada wanita. Naura terheran dan tidak tahu harus
berekspresi apa. Fathan bercerita pada Naura jika Hesa bahagia selalu
berkesempatan berada di setting yang sama dengan Naura. Karena dengan begitu,
Hesa dapat menjaga Naura dengan lebih baik. Naura juga yang merupakan alasan
Hesa tidak membuka hati untuk nama lain. Hesa tulus pada Naura, hanya memberi
tak harap kembali. Hesa tidak memaksa cintanya terbalas. Hesa hanya ingin
melihat Naura bahagia dan terus tersenyum bersamanya karena kasih cintanya yang
tulus.
“kamu
beruntung, kamu punya Hesa yang sangat tulus menjaga kamu agar tetap bahagia.
Semoga kalian mendapat kebahagiaan kalian.” Kata Fathan sambil tersenyum.
Naura
tertegun dengan sedikit raut menyesal bertengger di wajahnya setelah mendengar
penjelasan Fathan. Naura tidak sadar bahwa dia sudah mendapatkan cinta yang
tulus dari seorang Hesa. Malam harinya, Naura memutuskan untuk menemui Hesa di
rumahnya. Setelah beberapa kali memencet bel, seorang wanita paruh baya
berkerudung membukakan pintu rumah Hesa untuk Naura. Wanita tersebut adalah Ibu
Hesa. Naura di izinkan untuk langsung menuju kamar Hesa oleh Ibu Hesa. Ketika
sampai di depan kamar Hesa, Naura mengatur nafas sebelum meluruskan dan
membicarakan apa yang seharusnya benar. Beberapa kali mengetok pintu kamar
Hesa, tak ada suara yang menjawab Naura.
“
sa, aku tahu kamu pasti kecewa sama aku. Aku minta maaf akhir-akhir ini jahatin
persahabatan kita. Tadi kak Fathan sampaikan sesuatu yang udah lama kamu
rahasiain dari aku. Aku mau dengar langsung dari kamu,Sa. Sekedar kamu tahu,
aku ke sini karena aku takut kehilangan kamu. Aku tidak tahan berlama-lama
mengizinkan kamu absen dari hidup aku. Sa, baikan yuk! Hesa..” Kata Naura mencoba menarik hati Hesa kembali
padanya.
Saat
Naura memutuskan untuk berbalik pulang karena tak mendengar suara apapun dari
balik pintu kamar Hesa, matanya menangkap Hesa tersenyum di belakangnya.
Ternyata Hesa sedang tidak di kamar namun ada di belakangnya ketika Naura
memberikan penjelasan.
“kamu
udah tau semua yang ada di pikiran sama hatiku dari Fathan kan? Pacaran yuk?”
kata Hesa mendekati Naura yang hampir terjatuh sedih dengan senyuman
termanisnya.
Naura
dengan yakin langsung mengiyakan ajakan Hesa. Mereka tersenyum lega. Naura
mendapatkan cinta tulusnya dan Hesa akhirnya mendapatkan Naura, cinta pertama
yang membuatnya mengerti tentang indahnya seorang wanita sederhana yang
bersinar karena keindahan hatinya.
Setelah
lama berdiri di persimpangan jalan, mendapati dua jalan keluar yang berbeda
atas satu masalah hidup yang sama, akhirnya Naura mendapatkan pelanginya yang
telah lama bersembunyi di balik gumpalan awan. Naura mendapatkan Hesa yang
sempat terkalahkan oleh hadirnya Fathan yang terlihat jauh lebih baik di mata
polos Naura. Tanpa perubahan yang di buat-buat pun, cinta tulus yang telah di
sediakan Tuhan dapat di genggam dengan bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar