AKU CERITAKU IMPIANKU

Minggu, 03 November 2013

Berhenti ......


Berjalan terseok tanpa kesadaran penuh. Aku lanjutkan tapakan ku kedepan. Aku tak tahu harus terus melangkah ke depan dengan terseok seperti  ini atau berhenti sejenak di sebuah persimpangan jalan untuk berbelok ke arah yang lain dengan jiwa dan cara hidup yang baru. Pilihan yang sulit di tengah kacaunya sebuah batin yang kosong. Ya, sebuah tempat di sudut batin ku yang telah ku isi penuh dengan segala cerita pahit dan manis tentang mu. Hanya tentangmu. Dan ketika kini kamu menghempaskan diri mu dari kehidupan nyataku, ruangan tersebut menjadi sebuah ruang kosong yang usang yang umumnya perlu untuk pembenahan dan tuan yang baru. Tapi aku belum siap untuk sebuah renovasi. Aku belum menemukan seorang yang lebih baik dari kamu. Menghapusmu dari tempat tersebut juga salah satu pekerjaan yang tidak bisa ku kerjakan dengan berhasil dalam waktu singkat. Aku menempatkanmu di ruangan tersebut sudah cukup lama. Aku juga perlu cukup waktu untuk menghapus mu tanpa sisa dari ruangan tersebut.
Aku, Mahesa Witta. Seorang gadis polos yang baru pertama kali di kunjungi oleh kerlap-kerlipnya cinta. Aku gadis yang tak berparas cantik, tidak punya segelintir prestasi, tidak punya keistimewaan karakter, dan tidak seperti orang - orang istimewa yang berteman dengan mu. Hanya beberapa orang yang berjiwa tulus yang tahan berada di samping ku. Dan kamu, Airlangga Rachmat, salah seorang yang mempunyai nilai ketulusan yang cukup dari ku sebagai seorang teman yang baik. Penampilan fashionable ala rocker di kombinasi sifat ramah, mudah bersosialisasi, dan loyal mu di lingkungan membuatku memutar otak untuk beberapa waktu untuk melihat ketulusanmu dengan mata hati ku. Aku yang dengan penampilan udik dan sikap aneh dalam lingkungan, membuatku beranggapan jika menerima mu sebagai seseorang yang lebih dari spesial tak terhitung oleh akal ku. Kamu terlalu kontras dan lebih waktu itu. Cara dan keteraturan hidupku tak sampai menggapai cara mu menjalani hidup. Namun, ada dorongan dari dalam hati ku yang terus-terusan memompa keyakinanku untuk melanjutkan kebahagiaan dengan mu.
Waktu itu, aku tidak tahu dengan pasti kapan aku mulai mengenalmu dengan baik. Kapan mulainya pertemanan kita tersebut. Kadang, aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Apalagi setelah hancurnya segala yang membuatku bahagia bersamamu tersebut, komitmen dan pertemanan, aku sangat ingin mendapatkan jawabanmu tentang bagaimana kamu mengawali komitmen ini dan mengapa kamu berani mengawali komitmen ini dengan gadis dengan hidup yang tidak berfluktuasi seperti ku. Tapi tak sama sekali kamu hiraukan tanya ku atas berbagi cerita tentang bagaimana dan mengapa kamu ingin mengawali cerita singkat, yang menempel manis di ingatan ku, ini bersama ku. Mungkin aku akan sedikit berbahagia di tengah hancur ku ketika mengetahui dan menyimpan potongan manis kenangan di awal perkenalan kita sebagai souvenir terakhir dari mu. Semua serba instant bagi ku. Semua terlihat sangat kontras di mata ku. Aku susah menemukan titik faktanya. Namun adanya kamu, kebahagiaan mengalir deras. Aku berpikir, bisa menjadi salah satu orang yang kamu bahagiakan jauh lebih bermakna dari pertanyaan apapun. Aku bersyukur untuk itu. Dan lagi-lagi kamu menang. Aku mengalah di tengah sesaknya penasaranku demi kelangsungan hubungan ku dengan mu kala itu. Aku mengalah dan diam tanpa tanya seperti yang kamu harapkan sampai sekarang, ketika sudah tidak ada lagi tali yang bisa menghubungkan kalimat tanya ku akan kondisi mu dan jawab mu atas sejuta tanya ku. Aku diam hingga sekarang untuk tidak menjadi orang yang kamu benci, untuk tetap kamu hargai sebagai seorang yang baik dan untuk bisa tetap di izinkan mengenangmu sebagi teman ku.
Aku menulis ini, selang tiga tahun habisnya masa bahagia ku bersamamu. Tiga kalender di tiga tahun yang lalu tlah tertumpuk usang di gudang. Tiga tahun aku berjalan tanpamu. Tiga tahun aku sabar menahan segala sakit yang sering menyudutkan ku di sebuah penyesalan. Aku berjalan di luar jalur kehidupan mu dengan tertunduk menyesal. Aku melanjutkan tapakan ku dengan berpura-pura tersenyum di depan banyak jiwa yang bahagia dengan kondisi ku yang terlihat baik di luar tapi remuk di dalam. Aku sering berpura-pura untuk menunjukkan pada mu jika aku bahagia melihatmu berbahagia jauh dari gadis tak berharga seperti ku. Melepaskanmu dari hidupku dan mengharap tetap bisa berteman dengan mu adalah keputusan yang menurutku baik saat itu.
Di masa tiga tahun hidup berjauhan dengan mu, aku mengumpulkan perkiraan-perkiraan atas segala sesuatu yang telah terjadi padamu. Kabar,cerita dan perasaan mu selalu aku pantau melalui sebuah jejaring sosial mu yang masih berteman dengan ku. Hanya jejaring sosial mu yang masih berteman dengan ku itulah yang membantu ku tetap mengetahui perkembanganmu yang ingin aku tahu. Karena kamu sudah enggan menghubungi ku lewat media apapun. Saling bertemu mata dengan ku mungkin sudah tidak kamu inginkan lagi. Setiap melihat mu berada dalam keadaan bahagia dengan hadirnya seseorang yang lain, aku menangis. Entah kenapa aku ingkar dengan diriku sendiri. Aku menginginkan kamu bahagia dengan cara yang telah aku buat sendiri ini, yakni bahagia tanpa aku, yang merupakan gadis buruk rupa yang tak pantas di hargai di hidupmu. Tapi aku meraung sakit ketika melihat mu bahagia dengan seorang yang lain. Perasaan ku tersayat. Sayatan ini memang abstrak. Namun sayatan ini terlalu kuat hingga sakitnya hidup menjadi sebuah sakit yang realitas yang membuatku sulit bernapas dengan baik.
Satu bulan setelah berani ku melepaskanmu dari hidupku. Langit tak berubah, hari-hari ku masih sama. Namun satu hal yang ku sadari benar telah hilang dan berubah adalah kamu tidak lagi disisiku dan menciptakan senyum ku. Kamu tidak lagi menjadi Airlangga Rachmat yang dulu tertawa bersama ku di hidup ku. Aku terus menguatkan diriku bahwa melepaskanmu untuk tidak tertahan dengan gadis buruk seperti ku adalah yang terbaik untuk aku dan kamu. Dan tidak menyisakan apapun di dalam hati ku adalah hal selanjutnya yang harus aku lakukan.
Waktu berlalu beberapa menit. Menghapusmu tanpa sisa dari hati dan memori ku adalah perbuatan sia-sia. Tidak. Ternyata aku tidak bisa melupakanmu seutuhnya. Aku menyayangimu, aku merindukanmu, karena aku mencintaimu dengan tulus. Hanya memberi perasaan ku ini tanpa mengharap balasan kasih hangat dari mu. Dalam satu bulan itu, di saat sepi dan sendiri ku, memanggilmu dalam ingatan ku seperti sebuah kebiasaan. Bahkan sampai beberapa detik yang lalu. Ya, hanya sampai beberapa detik yang lalu. Karena aku memutuskan benar-benar menghapusmu setelah sebuah benturan besar yang kamu ciptakan , menganggap ku tidak ada, menghantam perasaan ku.
Aku sakit ketika sepotong kenangan melintas di depan ku. Aku hanya bisa berlindung di balik selimut kumal yang menyembunyikan ku ketika air mata mengucur deras di pipi. Aku selalu mensugesti diriku bahwa kamu bersikap enggan seperti sekarang hanya untuk sementara. Dan kesabaran ku atas akhir yang baik akan memenangkan kondisi sulit di tengah-tengah aku dan kamu. Aku terus-terusan menyimpan potongan-potongan kecil bukti ketika aku menikmati tawa bahagia bersamamu. Aku terus-terusan menikmati pahit perih mencintaimu selama tiga tahun ini.
Orang-orang sekitarku menyodorkan segala kalimat yang berusaha menyadarkanku bahwa aku sekarang sedang tertawa di dalam sakitku. Aku berhak bahagia meski tanpa kamu di dalam hidupku. Aku sudah kelewatan dalam menyimpan sakit ini terlalu lama di hatiku. Dan sudah saatnya aku berpindah untuk sebuah perbaikan yang baru.
Keyakinanku tak tergoyahkan meski berbagai kalimat keramat menyerbu telingaku. Aku tetap menguatkan sabarku untuk menunggu penjelasan dari kamu kalau aku memang layak untuk di benci dan di jauhi seperti yang sekarang sedang dia lakukan pada ku. Aku menunggu untuk penjelasannya sekaligus memusnahkan rasa ku untuknya ketika memang nyata aku mendengar penjelasanmu jika aku layak di hilangkan dari hidupmu.
Aku menjaga keyakinan itu diam-diam selama tiga tahun dan kemudian luntur ketika dua hari yang lalu. Selama ini aku sadar bahwa kamu tidak merespon ku dan menghargai itikat baikku hanya sekedar untuk memperbaiki pertemanan kita. Tapi sayangku pada dia menyepak jauh rasa peka ku atas tak inginya terhadap hadirku. Mungkin sudah terlalu sering aku menyepak rasa tersebut dan sekarang berhujung lelah.
Beberapa detik yang lalu, ku sudahi semua sakitku. Aku menghapus semua yang berhubungan dengan mu. Telephone genggam ku bersih dari kontak dan potret mu, satu-satunya pemberian mu sudah ku musnahkan, beberapa mantan tugas sekolahku yang berbau pertolonganmu sudah ku kirim ke recycle bin dan jejaring sosial yang masih berteman dengan ku sudah ku remove dengan tangan ku sendiri. Aku bangga melakukan itu sendiri. Aku memulai untuk melakukan apa yang juga kamu lakukan pada ku, yakni menjauh dan kemudian tak sama sekali terhubung.
Aku marah dengan cara mu pasrah dan diam menghadapiku. Mungkin aku jahat di mata mu. Namun, jika kamu mengusir ku secara langsung dengan menyuruhku tidak muncul di hidupmu, aku akan pergi dari mu dengan ikhlas. Tapi di balik segala sikapmu ini, diam dan pasrah, mungkin kamu punya alasan yang kuat yang memang terbaik dan terhormat untuk perasaan mu dan perasaan ku. Sekarang, aku ikhlas kamu benci dan hapus dalam hidup mu. Jika Tuhan memberi kita kesempatan untuk saling bertemu, ingin ku sampaikan kepada kamu;

“Maaf , karena aku sekarang mulai sedikit menaruh rasa benci pada mu. Maaf, karena telah banyak mengganggu mu dengan ulah aneh ku. Maaf, telah mencintaimu lebih dari yang kamu tahu. Maaf, telah mempertahankan perasaanku pada mu terlalu lama. Aku akan melakukan yang mungkin dari dulu kamu inginkan dari ku. Aku tidak akan menyukaimu lagi. Tidak lagi menyayangimu. Ini akan menjadi tulisan terakhir ku yang menempatkanmu sebagai peran utama. Terima kasih. Kamu telah menjadi sumber utama ku untuk melawan segala ketakutan. Semua ketakutanku bermetamorfosa menjadi sebuah produk yang positif. Kamu membuatku menggunakan rasa cintaku padamu sebagai alat untuk berjalan di jalan yang benar dan menuju sebuah tujuan besar di depan sana, yaitu menunujukkan pada mu bahwa aku sedikit layak berdiri di sampingmu. Meskipun aku tak bisa mendapat tujuan ku. Tapi setidaknya aku bisa menjadi seseorang yang baik karena sikap enggan mu ini dan rasa cinta ku kepada mu. Terima kasih.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar