Berjalan
terseok tanpa kesadaran penuh. Aku lanjutkan tapakan ku kedepan. Aku tak tahu
harus terus melangkah ke depan dengan terseok seperti ini atau berhenti sejenak di sebuah
persimpangan jalan untuk berbelok ke arah yang lain dengan jiwa dan cara hidup
yang baru. Pilihan yang sulit di tengah kacaunya sebuah batin yang kosong. Ya,
sebuah tempat di sudut batin ku yang telah ku isi penuh dengan segala cerita
pahit dan manis tentang mu. Hanya tentangmu. Dan ketika kini kamu menghempaskan
diri mu dari kehidupan nyataku, ruangan tersebut menjadi sebuah ruang kosong
yang usang yang umumnya perlu untuk pembenahan dan tuan yang baru. Tapi aku
belum siap untuk sebuah renovasi. Aku belum menemukan seorang yang lebih baik
dari kamu. Menghapusmu dari tempat tersebut juga salah satu pekerjaan yang
tidak bisa ku kerjakan dengan berhasil dalam waktu singkat. Aku menempatkanmu
di ruangan tersebut sudah cukup lama. Aku juga perlu cukup waktu untuk
menghapus mu tanpa sisa dari ruangan tersebut.
Aku,
Mahesa Witta. Seorang gadis polos yang baru pertama kali di kunjungi oleh kerlap-kerlipnya
cinta. Aku gadis yang tak berparas cantik, tidak punya segelintir prestasi,
tidak punya keistimewaan karakter, dan tidak seperti orang - orang istimewa yang
berteman dengan mu. Hanya beberapa orang yang berjiwa tulus yang tahan berada
di samping ku. Dan kamu, Airlangga Rachmat, salah seorang yang mempunyai nilai
ketulusan yang cukup dari ku sebagai seorang teman yang baik. Penampilan fashionable ala rocker di kombinasi sifat ramah, mudah bersosialisasi, dan loyal mu
di lingkungan membuatku memutar otak untuk beberapa waktu untuk melihat
ketulusanmu dengan mata hati ku. Aku yang dengan penampilan udik dan sikap aneh
dalam lingkungan, membuatku beranggapan jika menerima mu sebagai seseorang yang
lebih dari spesial tak terhitung oleh akal ku. Kamu terlalu kontras dan lebih
waktu itu. Cara dan keteraturan hidupku tak sampai menggapai cara mu menjalani
hidup. Namun, ada dorongan dari dalam hati ku yang terus-terusan memompa
keyakinanku untuk melanjutkan kebahagiaan dengan mu.
Waktu
itu, aku tidak tahu dengan pasti kapan aku mulai mengenalmu dengan baik. Kapan
mulainya pertemanan kita tersebut. Kadang, aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
tersebut. Apalagi setelah hancurnya segala yang membuatku bahagia bersamamu
tersebut, komitmen dan pertemanan, aku sangat ingin mendapatkan jawabanmu
tentang bagaimana kamu mengawali komitmen ini dan mengapa kamu berani mengawali
komitmen ini dengan gadis dengan hidup yang tidak berfluktuasi seperti ku. Tapi
tak sama sekali kamu hiraukan tanya ku atas berbagi cerita tentang bagaimana
dan mengapa kamu ingin mengawali cerita singkat, yang menempel manis di ingatan
ku, ini bersama ku. Mungkin aku akan sedikit berbahagia di tengah hancur ku
ketika mengetahui dan menyimpan potongan manis kenangan di awal perkenalan kita
sebagai souvenir terakhir dari mu. Semua serba instant bagi ku. Semua terlihat
sangat kontras di mata ku. Aku susah menemukan titik faktanya. Namun adanya
kamu, kebahagiaan mengalir deras. Aku berpikir, bisa menjadi salah satu orang
yang kamu bahagiakan jauh lebih bermakna dari pertanyaan apapun. Aku bersyukur
untuk itu. Dan lagi-lagi kamu menang. Aku mengalah di tengah sesaknya
penasaranku demi kelangsungan hubungan ku dengan mu kala itu. Aku mengalah dan
diam tanpa tanya seperti yang kamu harapkan sampai sekarang, ketika sudah tidak
ada lagi tali yang bisa menghubungkan kalimat tanya ku akan kondisi mu dan
jawab mu atas sejuta tanya ku. Aku diam hingga sekarang untuk tidak menjadi
orang yang kamu benci, untuk tetap kamu hargai sebagai seorang yang baik dan
untuk bisa tetap di izinkan mengenangmu sebagi teman ku.
Aku
menulis ini, selang tiga tahun habisnya masa bahagia ku bersamamu. Tiga
kalender di tiga tahun yang lalu tlah tertumpuk usang di gudang. Tiga tahun aku
berjalan tanpamu. Tiga tahun aku sabar menahan segala sakit yang sering
menyudutkan ku di sebuah penyesalan. Aku berjalan di luar jalur kehidupan mu
dengan tertunduk menyesal. Aku melanjutkan tapakan ku dengan berpura-pura
tersenyum di depan banyak jiwa yang bahagia dengan kondisi ku yang terlihat
baik di luar tapi remuk di dalam. Aku sering berpura-pura untuk menunjukkan
pada mu jika aku bahagia melihatmu berbahagia jauh dari gadis tak berharga
seperti ku. Melepaskanmu dari hidupku dan mengharap tetap bisa berteman dengan
mu adalah keputusan yang menurutku baik saat itu.
Di
masa tiga tahun hidup berjauhan dengan mu, aku mengumpulkan perkiraan-perkiraan
atas segala sesuatu yang telah terjadi padamu. Kabar,cerita dan perasaan mu
selalu aku pantau melalui sebuah jejaring sosial mu yang masih berteman dengan
ku. Hanya jejaring sosial mu yang masih berteman dengan ku itulah yang membantu
ku tetap mengetahui perkembanganmu yang ingin aku tahu. Karena kamu sudah
enggan menghubungi ku lewat media apapun. Saling bertemu mata dengan ku mungkin
sudah tidak kamu inginkan lagi. Setiap melihat mu berada dalam keadaan bahagia
dengan hadirnya seseorang yang lain, aku menangis. Entah kenapa aku ingkar
dengan diriku sendiri. Aku menginginkan kamu bahagia dengan cara yang telah aku
buat sendiri ini, yakni bahagia tanpa aku, yang merupakan gadis buruk rupa yang
tak pantas di hargai di hidupmu. Tapi aku meraung sakit ketika melihat mu
bahagia dengan seorang yang lain. Perasaan ku tersayat. Sayatan ini memang
abstrak. Namun sayatan ini terlalu kuat hingga sakitnya hidup menjadi sebuah
sakit yang realitas yang membuatku sulit bernapas dengan baik.
Satu
bulan setelah berani ku melepaskanmu dari hidupku. Langit tak berubah, hari-hari
ku masih sama. Namun satu hal yang ku sadari benar telah hilang dan berubah
adalah kamu tidak lagi disisiku dan menciptakan senyum ku. Kamu tidak lagi
menjadi Airlangga Rachmat yang dulu tertawa bersama ku di hidup ku. Aku terus
menguatkan diriku bahwa melepaskanmu untuk tidak tertahan dengan gadis buruk
seperti ku adalah yang terbaik untuk aku dan kamu. Dan tidak menyisakan apapun
di dalam hati ku adalah hal selanjutnya yang harus aku lakukan.
Waktu
berlalu beberapa menit. Menghapusmu tanpa sisa dari hati dan memori ku adalah
perbuatan sia-sia. Tidak. Ternyata aku tidak bisa melupakanmu seutuhnya. Aku
menyayangimu, aku merindukanmu, karena aku mencintaimu dengan tulus. Hanya
memberi perasaan ku ini tanpa mengharap balasan kasih hangat dari mu. Dalam
satu bulan itu, di saat sepi dan sendiri ku, memanggilmu dalam ingatan ku
seperti sebuah kebiasaan. Bahkan sampai beberapa detik yang lalu. Ya, hanya
sampai beberapa detik yang lalu. Karena aku memutuskan benar-benar menghapusmu
setelah sebuah benturan besar yang kamu ciptakan , menganggap ku tidak ada, menghantam
perasaan ku.
Aku
sakit ketika sepotong kenangan melintas di depan ku. Aku hanya bisa berlindung
di balik selimut kumal yang menyembunyikan ku ketika air mata mengucur deras di
pipi. Aku selalu mensugesti diriku bahwa kamu bersikap enggan seperti sekarang
hanya untuk sementara. Dan kesabaran ku atas akhir yang baik akan memenangkan
kondisi sulit di tengah-tengah aku dan kamu. Aku terus-terusan menyimpan
potongan-potongan kecil bukti ketika aku menikmati tawa bahagia bersamamu. Aku
terus-terusan menikmati pahit perih mencintaimu selama tiga tahun ini.
Orang-orang
sekitarku menyodorkan segala kalimat yang berusaha menyadarkanku bahwa aku
sekarang sedang tertawa di dalam sakitku. Aku berhak bahagia meski tanpa kamu
di dalam hidupku. Aku sudah kelewatan dalam menyimpan sakit ini terlalu lama di
hatiku. Dan sudah saatnya aku berpindah untuk sebuah perbaikan yang baru.
Keyakinanku
tak tergoyahkan meski berbagai kalimat keramat menyerbu telingaku. Aku tetap
menguatkan sabarku untuk menunggu penjelasan dari kamu kalau aku memang layak
untuk di benci dan di jauhi seperti yang sekarang sedang dia lakukan pada ku.
Aku menunggu untuk penjelasannya sekaligus memusnahkan rasa ku untuknya ketika
memang nyata aku mendengar penjelasanmu jika aku layak di hilangkan dari hidupmu.
Aku
menjaga keyakinan itu diam-diam selama tiga tahun dan kemudian luntur ketika
dua hari yang lalu. Selama ini aku sadar bahwa kamu tidak merespon ku dan
menghargai itikat baikku hanya sekedar untuk memperbaiki pertemanan kita. Tapi
sayangku pada dia menyepak jauh rasa peka ku atas tak inginya terhadap hadirku.
Mungkin sudah terlalu sering aku menyepak rasa tersebut dan sekarang berhujung
lelah.
Beberapa
detik yang lalu, ku sudahi semua sakitku. Aku menghapus semua yang berhubungan
dengan mu. Telephone genggam ku bersih dari kontak dan potret mu, satu-satunya
pemberian mu sudah ku musnahkan, beberapa mantan tugas sekolahku yang berbau
pertolonganmu sudah ku kirim ke recycle
bin dan jejaring sosial yang masih berteman dengan ku sudah ku remove
dengan tangan ku sendiri. Aku bangga melakukan itu sendiri. Aku memulai untuk
melakukan apa yang juga kamu lakukan pada ku, yakni menjauh dan kemudian tak
sama sekali terhubung.
Aku
marah dengan cara mu pasrah dan diam menghadapiku. Mungkin aku jahat di mata
mu. Namun, jika kamu mengusir ku secara langsung dengan menyuruhku tidak muncul
di hidupmu, aku akan pergi dari mu dengan ikhlas. Tapi di balik segala sikapmu
ini, diam dan pasrah, mungkin kamu punya alasan yang kuat yang memang terbaik
dan terhormat untuk perasaan mu dan perasaan ku. Sekarang, aku ikhlas kamu
benci dan hapus dalam hidup mu. Jika Tuhan memberi kita kesempatan untuk saling
bertemu, ingin ku sampaikan kepada kamu;
“Maaf
, karena aku sekarang mulai sedikit menaruh rasa benci pada mu. Maaf, karena
telah banyak mengganggu mu dengan ulah aneh ku. Maaf, telah mencintaimu lebih
dari yang kamu tahu. Maaf, telah mempertahankan perasaanku pada mu terlalu
lama. Aku akan melakukan yang mungkin dari dulu kamu inginkan dari ku. Aku
tidak akan menyukaimu lagi. Tidak lagi menyayangimu. Ini akan menjadi tulisan
terakhir ku yang menempatkanmu sebagai peran utama. Terima kasih. Kamu telah
menjadi sumber utama ku untuk melawan segala ketakutan. Semua ketakutanku bermetamorfosa
menjadi sebuah produk yang positif. Kamu membuatku menggunakan rasa cintaku
padamu sebagai alat untuk berjalan di jalan yang benar dan menuju sebuah tujuan
besar di depan sana, yaitu menunujukkan pada mu bahwa aku sedikit layak berdiri
di sampingmu. Meskipun aku tak bisa mendapat tujuan ku. Tapi setidaknya aku
bisa menjadi seseorang yang baik karena sikap enggan mu ini dan rasa cinta ku
kepada mu. Terima kasih.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar