AKU CERITAKU IMPIANKU

Senin, 28 Mei 2012

"Don't You Remember"

When will I see you again?
You left with no goodbye,
Not a single word was said,
No final kiss to seal any scene,
I had no idea of the state we were in,

I know I have a fickle heart and a bitterness,
And a wandering eye, and heaviness in my head,

But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,

When was the last time you thought of me?
Or have you completely erased me from your memory?
I often think about where I went wrong,
The more I do, the less I know,

But I know I have a fickle heart and a bitterness,
And a wandering eye, and a heaviness in my head,

But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,

Gave you the space so you could breathe,
I kept my distance so you would be free,
And hoped that you'd find the missing piece,
To bring you back to me,

Why don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember you used to love me,

When will I see you again? 
 
 

Kamis, 17 Mei 2012

Cinta Moccacino


Senin pagi dua tahun lalu di sebuah ruangan persegi. Ruangan yang tidak begitu besar, berlapis cat merah jambu gelap berlis kuning, segala keriuhan khas pejuang garda X masa putih abu-abu tertumpah tak terkendali. Aku terduduk bosan di tempat kedamaianku tercipta. Bangku nomor dua di pojok kiri ruangan, bersebelahan persis dengan sebuah jendela yang berukuran dua kali sebuah jendela mobil. Tenang dan terasa tidak terganggu duduk di bangku ini. Rutinitas pagi wajibku sebelum kelas dimulai adalah mengulang mata pelajaran yang sudah kubaca sebelumnya di rumah. Ya, aku, Widda, seorang remaja yang terlihat yang salah jalan. Di tengah berbagai warna-warni aktivitas seru anak remaja, aku terpatung sebagai seorang kutu buku. Teman-teman sekelasku bernafas kebahagiaan, sedangkan aku sesak nafas akan rumus dan berbagai teori ilmu. Pada waktu itu aku tidak menyesal memilih jalan itu. Tapi setelah beberapa bulan aku berteman dengan salah seorang warga penghuni kelas yang sama dengan ku di garda X itu, namanya Meza, aku sedikit demi sedikit merangkak keluar dari tempurung keteraturan hidup. Aku mulai melueskan gerakku sebagai seorang remaja. Pergi hang out sepulang sekolah, sengaja menyisahkan PR untuk dikerjakan  di kelas dan masuk ke dalam kondisi tergesa-gesa dikejar perputaran jam ketika menyelesaikan PR ditengah dentingan bel masuk.
“Widda.......??” Teriak Meza seperti orang yang habis menang undian berhadiah dari tutup minuman kemasan.
“Kau ini....berisik! Aku tau kamu titisannya mpok Nori, gak usah nyombong pake teriak sekenceng roker pagi-pagi gini.” Sahut ku dengan sewot.
“ Aku direkrut bandnya Kak Beben buat jadi vokalis” cerita Meza sambil tertawa.
Ya, aku dan Meza sama-sama mencintai dunia musik. Bermain dengan kumpulan nada dan melodi adalah kegemaran kami. Bernyanyi dan bermain alat musik bersama sering kami lakukan. Aku mengikuti ekskul musik tradisional di sekolah. Dan Meza bergabung dengan ekskul Band bersama grup band Kak Beben. Pada awalnya aku mencengkeram kuat prinsip bahwa sekolah hanya untuk belajar, tidak untuk berbuat ulah di luar bidang akademis. Kolot sekali pola pikirku waktu itu. Tapi setelah aku kenal dan berteman dengan Meza, semangatku semakin terpompa untuk mengikuti apa yang ayahku jalani saat itu. Ayahku, seorang guru ekskul musik di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Setitik darah berbau musik telah meracuniku dan membungkamku untuk tidak bisa menemukan alasan untuk tidak berteman dengan musik.
“Kak Beben yang kemarin tampil di acara musik kelas kita?” tanyaku.
“Iya...” Meza tersenyum dengan cantiknya.
Setelah Meza bergabung dengan grup band yang digawangi Kak Beben, segala prestasi dan popularitas dari penjuru sudut dikantongi Meza dan Bandnya. Berbagai pikiran konyolpun lahir dari otakku untuk ingin berprestasi seperti Meza. Aku melakukan berbagai hal gila di luar batas sadarku sebagai seorang yang cenderung culun. Dari mulai ingin merancang fashion style baru yang tidak kalah fashionable dari yang di pakai Meza, sampai ingin mengutamakan ekskul daripada prestasi akademikku. Di akhir tahun ajaran semester genap kelas X, diadakan festival akustik sederhana antarkelas dengan membawakan lagu kreasi sendiri. Rasanya waktu itu urat maluku sudah putus. Aku menciptakan lagu abal-abal dan aku tunjukkan lagu itu pada Meza. Ternyata Meza suka dengan lagu abal-abalku. Aku terdiam tak berkomentar. Aku lebih tersentak lagi waktu Meza meminta izin untuk merekam laguku untuk ditunjukkan ke Kak Beben yang waktu itu adalah orang terdekat Meza. Aku iyakan saja meskipun aku sadar nantinya kepercayaan diriku akan meleleh karena malu bertatapan dengan Kak Beben yang menurut persepsiku terlihat dingin dan perfeksionis terhadap musik. Dengan segala kebodohan, secara sadar aku ambil nada awal. Dengan keterbatasan ukuran jari-jariku, aku menarikan jari-jariku di atas kumpulan senar. Meza bernyanyi dengan wajah bahagia dan penuh galau menaklukkan lirik dan nada abal-abal laguku. Tulus dan sangat indah. Sedangkan aku, Jari-jariku menggenjreng dengan tidak sopan. Benar-benar lengkap keabal-abalan laguku dan kualitas bermain musikku. Fokusku hampir tersita hanya untuk memaksimalkan festival musik itu. Meza menunjukkan rekaman lagu abal-abalku ke Kak Beben. Aku tahu tentang Kak Beben selama ini hanya dari runtutan cerita Meza tapi tidak megenalnya dengan dekat. Kata Meza, hampir semua alat musik bisa Kak Beben mainkan. Meza selalu menyodorkan cerita bahagia tentang kebersamaannya dengan Kak Beben. Kak Beben terlihat sangat menyayangi segala yang mendampinginya, dan Meza salah satunya. Kak Beben menjaga Meza dengan segala kehangatan kasihnya.
Festival musik untuk penutupan semester genap kelas X sudah dekat. Kelompok musikku dan kelompok musik Meza latihan di tempat yang sama setiap harinya. Kak Beben selalu ada di setiap Meza latihan dengan kelompok musiknya. Dia tidak pernah absen ketika Meza membutuhkannya. Meza mengenalkanku dengan Kak Beben. Kak Beben memulai dialog pertamanya denganku dengan bahasan lagu abal-abalku. Hampir ingin aku sobek wajahku kemudian aku masukkan kantong dalam-dalam. Wajahku memerah dan aku terserang bisu dadakan karena malu. Hanya nyengir untuk merespon Kak Beben yang sangat semangat menilai laguku. Kak Beben tidak sedingin yang aku pikirkan. Dia humoris dan ramah. Tidak bosan aku mendengarnya berceloteh ke sana ke mari. Aku iri dengan Meza. Dia mempunyai seseorang yang begitu kuat menyayanginya. Dia dikelilingi orang-orang yang benar-benar menyenangkan perasaannya.
Satu bulan sudah aku habiskan sisa waktu luang dan belajarku untuk latihan musik. Aku melakukan kesibukan berbau musik itu sampai saat pembagian nilai akhir semester genap diumumkan. Segala kerepotan yang aku hasilkan dan berpikir yang tidak-tidak, menghasilkan suatu grafik yang hebat di akhir semester genapku di kelas X. Kejutan yang mahadahsyat. Rangkingku turun. Pupus sudah targetku masuk kelas Internasional. Aku juga kehilangan pemimpinku. Ayah ku menghadap Sang Maha Agung. Aku baru memulai sesuatu untukk Ayah tapi beliau sudah meninggalkanku. Aku mulai berteman dengan kemalasan dan kepesimisan. Aku juga tidak lagi berteman dekat dengan Meza yang merupakan salah satu teman terbaik yang kupunya. Kita terpisahkan oleh hasil nilai sekolah kami. Aku di kelas unggulan sedangkan Meza ada di kelas reguler. Hanya musik yang waktu itu tetap setia menunggu proses ku menuju peningkatan yang baik. Ayah, Pestasi akademik, dan Meza berbalik arah dan kemudian pergi jauh. Hal ini membuatku semakin semangat mengejar prestasi di bidang musik.
Tahun selanjutnya, aku berjuang sebagai pasukan putih abu-abu garda XI. Pada suatu hari, di layar handphone ku muncul pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Ternyata nomor itu nomor Kak Beben. Aku mengobrol banyak dengan dia lewat SMS. Dia datang di tengah ke abu-abuan ku. Dia benar-benar jauh lebih menyenangkan dari yang kulihat. Aku tak henti-hentinya tersenyum selebar daun kelor mendengarnya berhumor. Aku dan Kak Beben semakin intensif berkomunikasi. Tidak hanya lintas pesan singkat di hape, tapi juga sering berada dalam setting kumpulan sosial yang sama. Aku dan Kak Beben berada di ekskul yang sama. Band dia dan grup musik tradisionalku sering berkolaborasi untuk ditampilkan dalam acara sekolah kami. Kami semakin akrab sebagai seorang teman. Aku selalu berusaha menjadi tempat singgah yang nyaman ketika dia menumpahkan semua ceritanya. Aku mengusahakan keluar dari kualitasku sebagai seorang yang membosankan, kaku dan pendiam. Aku mengimbanginya.
Di tengah semester ganjil garda XI, aku terkena penyakit Thypus. Aku harus absen bersekolah beberapa hari. Di hari pertamaku absen sekolah, Kak Beben meneleponeku pada jam pulang sekolah dengan nomor hape temannya.
“Haloo....wid! ini Beben. Kamu di mana?” Sapanya dengan nada tergesa-gesa.
“Aku nggak masuk sekolah Kak hari ini. Aku sakit.” jawabku dengan nada lemas seperti mau mati .
“Hah?? Sakit apa? Kok gak kabarin aku?” Jawabnya kaget.
“Cuma gejala Thypus kok Kak. Doain cepet sembuh, ya!” Jawab ku
“Cepet sembuh, yah! Aku traktir ice cream kalo udah sembuh.” Jawabnya manis.
Percaya gak percaya, kalimat terakhir dia ampuh mengembalikan kesehatanku. Dua hari kemudian, aku bisa masuk sekolah dengan setengah kesehatan ku. Untuk orang lain, mungkin hal seperti itu biasa. Untukku kalimat itu keramat. Aku tidak mendapat perlakuan manja sebagai seorang bungsu dan perempuan dengan baik dari keluarga ataupun lingkungan sekitarku. Semua menekan dan memaksaku untuk mandiri dan tidak bermanja-manjaan ketika terbaring lemah tak sehat sekalipun. Tapi Kak Beben selalu memberikan perlakuan yang kontras dengan yang orang-orang sekitarku lakukan selama ini. Rasanya udara di pagi itu adalah udara tersegar yang pernah aku hirup, matahari terindah yang pernah aku lihat, dan rohani yang baru dalam jasmani yang usang.
Kelasku berada di lantai tertinggi di gedung sekolahku. Aku bisa memantau apapun di seluruh penjuru sisi sekolah. Bel masukpun berbunyi. Sepeda motor berwarna putih strip merah dengan pengendara berjaket merah dan berhelm putih memasuki lapangan sekolah. Aku mengenal figur dengan ciri-ciri itu. Dia adalah Kak Beben. Doa untuk mulai pelajaranpun dibacakan. Aku yang berdiri di depan kelas seharusnya duduk di dalam kelas ketika doa sedang dibacakan. Tapi keharusan berbalik arah dan melangkah masuk kelas, tak aku pedulikan. Aku keluar dari aturan sekolah tertulis yang terbingkai rapi dan menggantung di dinding-dinding kelas. Entah kenapa ada rasa lega bisa melihatnya di pagi itu. Aku menyelesaikan sekolahku hari itu dengan kesehatan yang meningkat drastis. Aku pulang dengan gembira. Ada yang mengganggu pandangku di tengah jalan menuju rumah. Warna jaket yang aku kenal mencolok mataku. Aku memicingkan mata, memastikan kalau aku memang kenal dengan pemilik jaket itu. Yapp, seseorang yang sedang berjalan di depanku adalah Kak Beben. Aku mengejar dan menyapanya. Dia kaget mendengar sapaku. Peristiwa yang sangat manis. Aku pulang dengan hati yang terombang-ambing tak karuan. Sesampainya di rumah, hapeku bergetar. Nama Kak Beben muncul di layar hape ku. Tekan dan baca. Sekelompok huruf yang tergabung menjadi sebuah kalimat indah perhatian muncul di layar hapeku. Rentetan peristiwa yang sangat manis dalam hidupku. Besoknya dia mengajakku bertemu di sebuah rumah ice cream untuk  memberikan jaket yang dibelinya ketika study tour beberapa bulan yang lalu dan menyampaikan sesuatu. Aku datang dengan beberapa temanku. Dia terlihat kecewa. Dia tidak banyak berbicara dan malah menyendiri di meja yang berbeda denganku. Entah kenapa.
Desember tanggal 12 pukul sebelas malam. Hapeku bergetar ketika aku tertidur pulas. Aku bangun untuk membaca pesan itu. Nama Kak Beben muncul di layar hape. Rasa ngantuk ku musnah dan enyah. Aku tercengang saat dia mengirim sms balasan untukku. Dia mengirim sebuah pertanyaan singkat yang tidak pernah terpikir oleh ku. Sekalipun saat senggangku.
“Wid...kamu mau gak jadi pacarku ?” pesan singkat dari Kak Beben.
Aku melongo kebingungan di tengah malam. Segala kemungkinan berputar di kepalaku. Apa jangan-jangan kepala Kak Beben habis terbentur tembok Cina, sehingga kalimat yang tidak wajar itu muncul. Atau mungkin juga dia keracunan makanan kemudian kehilangan akal sehatnya, sehingga berhalusinasi sebegitu tinggi. Aku diam dan tidak membalas pesan singkatnya. Dia memberiku ultimatum ringan. Jika aku meminta jangka waktu untuk berpikir maka dia tidak mau tidur sampai dia mendengar kata “IYA”. Kemudian aku mengiyakan pertanyaannya tanpa banyak bertanya dan menuntut pernyataan indah dari dia.
Pagipun datang. Aku bangun dengan sesuatu yang baru. Aku dan status. Aku hampir gila membayangkan menjalani seru dan bahagianya hidup di setiap detikku bernafas bersama dia di sampingku. Tertawa bersama dan berbagi beban hidup bersama. Aku merasa Tuhan telah mengirimkan polisi hati dan segala kekacauan hidupku. Aku semakin intensif bertukar cerita hidup dengannya lewat pesan singkat di telepone genggam. Kami menyembunyikan status baru kami dari semua orang yang kami kenal. Entah kenapa. Tapi kami nyaman dengan komitmen tersebut. Aku sangat nyaman sebagai bayangan. Bersembunyi dan berbahagia di balik punggung hangatnya. Mungkin karena aku tidak mau mengecewakannya dengan segala kurang ku. Gadis-gadis yang pernah mendampinginya dulu jauh lebih baik dari kualitas ku. Satu-satunya hal terbaik yang bisa ku lakukan untuk dia adalah melindungi kenyamanannya bersosialisasi.

Berjalan satu bulan,kami hanya bertatap muka di sekolah tanpa saling menyapa. Komunikasi kami tidak lagi berkualitas dan berkuantitas. Dia berubah. Sulit di hubungi. Padahal jembatan ku dan dia hanyalah pesan singkat telepone genggam. Komunikasi rumit di tengah rasa sayangku yang kian detik kian mengembang. Aku memutuskan menyudahi status kami sebagai sebuah pasangan. Aku menyerah dengan segala benturan masalah dan kenyataan buruk yang muncul.
Kabar yang tak aku inginkan masuk ke telingaku. Kak Beben dikabarkan sedang mendekati salah seorang adik kelasku yang juga teman dekat sahabatku –namanya Wawa-. Aku juga mendengar dari teman kalau Kak Beben datang ke sebuah acara bersama seorang gadis yang sangat cantik. Aku mencoba menghubunginya di tengah masih berjalannya status kami dan berantakannya hatiku. Tapi tak lagi mendapat respon sebaik sebelum terpasangnya status ini. Aku bersabar beberapa hari. Hubunganku dengan Wawa harus rela terobrak-abrik juga. Wawa mengira aku memojokkan posisi adik kelas itu demi membela Kak Beben. Kusutlah persahabatanku dengan Wawa. Padahal aku mengusahakan berada di posisi netral meskipun perih dan sedih bersilaturahmi dalam perasaanku. Aku sudak tidak kuat tergencet di kondisi sesesak ini. Aku tahu setelah ini hubunganku dengan Kak Beben tidak akan sebaik dulu. Tapi aku tidak bisa menyakiti Kak Beben dengan membatasi geraknya untuk memilih kebahagiaan yang lebih bahagia. Aku memilih mengalah untuk membiarkan Kak Beben memilih bahagianya. Selama dua minggu setelah berakhirnya status hubungan ku dengan Kak Beben, komunikasi lenyap. Meskipun hanya untuk tanya kabar satu sama lain. Aku lemah ketika dia tidak hadir di sampingku. Aku mulai sadar bahwa segala perubahan yang telah aku ciptakan selama bersamanya dari diriku karena aku mencintainya. Dia cinta pertama yang mengunjungi hati dingin ku. Dia orang pertama yang menunjukkan aku bahagianya cinta.
Rabu di tengah siang, aku bertemu Kak Beben di kantin sekolah. Aku menunduk menahan sakit. Sakit melihatnya melemparkan tatapan  asing padaku. Teman-temannya melemparkan lelucon yang membuat jantungku kembang kempis bahagia. Malam harinya, dia menghubungiku lewat pesan singkat. Dia meminta hubungan itu berjalan kembali. Aku langsung menjawab IYA. Aku tak mau kehilangan cintaku lagi. Aku butuh dia untuk menjadi penyeimbang hidupku. Dua minggu berjalan, dia hilang tak berjejak. Saling bertemu mata ketika di sekolahpun dia enggan melihatku. Inilah puncak kesakitanku. Apakah ajakan itu tidak tulus dia ucapkan? Atau ada alasan lain di balik semua sikapnya itu? Aku tak menemukan jawaban.
Pertemuan terakhirku dengannya, ketika aku ikut mengisi di acara perpisahan sekolah pada angkatannya. Perpisahan abadi. Setelah itu, aku kehilangan dia hingga sekarang. Dua tahun lebih aku tidak berkomunikasi dengannya. Tertunduk lemah kehilangan dia, berputar-putar oleh kenangan yang tertempel manis di otakku, berbuat sesuatu di luar batas teraturku untuk memberi isyarat padanya kalau aku mengubah diri menurut standar terbaiknya untuknya, merasakan terbentur perih saat merindukan nya. Cerita yang aku tapaki bersama dia dari dulu hingga kini seperti secangkir moccacino. Seruputan di kali pertama sangat manis, karena yang tertenggak adalah cream pemanis di puncak cangkir. Ketika di ujung habisnya moccacino, rasanya pahit dominan namun manis yang abadi menolongku untuk tetap senang menghabiskan pahit yang tersisa di cangkir. Di awal ceritaku  bersamanya, kesan senang dan runtutan tingkah manisnya menghiasi gelap hidupku. Aku berani melangkah ke status yang lebih tinggi karena manisnya meyakinkanku. Tapi di akhir ceritaku bersama dia, berbagai benturan yang membuatku sesak dan perih datang tak permisi secara bertubi-tubi. Namun bahagiaku bersama Kak Beben jauh lebih abadi dari pada pahit yang kau sumbang ke hatiku secara dadakan. Aku tetap menyayangi dia tanpa ragu hingga akhir cerita. Bahkan sampai perpisahan terakhirku kelak dengan dunia ini. Aku tetap mengenang dan mematung dia di hatiku semanis kesan di awal kesempatan mengenalnya. Aku bahagia mengenal dan dekat dengan dia. Aku bangga bisa berteman dengan dia. Aku bersyukur telah diberi kesempatan oleh Tuhan bisa mengenalnya. Kak Beben adalah orang terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk mendamaikan kekacauan perasaan ku dan menciptakan senyum di setiap benturan pahit hidupku.