
Senin pagi dua
tahun lalu di sebuah ruangan persegi. Ruangan yang tidak begitu besar, berlapis
cat merah jambu gelap berlis kuning, segala keriuhan khas pejuang garda X masa
putih abu-abu tertumpah tak terkendali. Aku terduduk bosan di tempat kedamaianku
tercipta. Bangku nomor dua di pojok kiri ruangan, bersebelahan persis dengan
sebuah jendela yang berukuran dua kali sebuah jendela mobil. Tenang dan terasa
tidak terganggu duduk di bangku ini. Rutinitas pagi wajibku sebelum kelas dimulai
adalah mengulang mata pelajaran yang sudah kubaca sebelumnya di rumah. Ya, aku,
Widda, seorang remaja yang terlihat yang salah jalan. Di tengah berbagai
warna-warni aktivitas seru anak remaja, aku terpatung sebagai seorang kutu
buku. Teman-teman sekelasku bernafas kebahagiaan, sedangkan aku sesak nafas
akan rumus dan berbagai teori ilmu. Pada waktu itu aku tidak menyesal memilih
jalan itu. Tapi setelah beberapa bulan aku berteman dengan salah seorang warga penghuni
kelas yang sama dengan ku di garda X itu, namanya Meza, aku sedikit demi
sedikit merangkak keluar dari tempurung keteraturan hidup. Aku mulai melueskan
gerakku sebagai seorang remaja. Pergi hang
out sepulang sekolah, sengaja menyisahkan PR untuk dikerjakan di kelas dan masuk ke dalam kondisi
tergesa-gesa dikejar perputaran jam ketika menyelesaikan PR ditengah dentingan
bel masuk.
“Widda.......??”
Teriak Meza seperti orang yang habis menang undian berhadiah dari tutup minuman
kemasan.
“Kau
ini....berisik! Aku tau kamu titisannya mpok Nori, gak usah nyombong pake
teriak sekenceng roker pagi-pagi gini.” Sahut ku dengan sewot.
“ Aku
direkrut bandnya Kak Beben buat jadi vokalis” cerita Meza sambil tertawa.
Ya, aku dan
Meza sama-sama mencintai dunia musik. Bermain dengan kumpulan nada dan melodi adalah
kegemaran kami. Bernyanyi dan bermain alat musik bersama sering kami lakukan.
Aku mengikuti ekskul musik tradisional di sekolah. Dan Meza bergabung dengan
ekskul Band bersama grup band Kak Beben. Pada awalnya aku mencengkeram kuat
prinsip bahwa sekolah hanya untuk belajar, tidak untuk berbuat ulah di luar
bidang akademis. Kolot sekali pola pikirku waktu itu. Tapi setelah aku kenal
dan berteman dengan Meza, semangatku semakin terpompa untuk mengikuti apa yang
ayahku jalani saat itu. Ayahku, seorang guru ekskul musik di sebuah Sekolah Menengah
Pertama. Setitik darah berbau musik telah meracuniku dan membungkamku untuk
tidak bisa menemukan alasan untuk tidak berteman dengan musik.
“Kak Beben
yang kemarin tampil di acara musik kelas kita?” tanyaku.
“Iya...”
Meza tersenyum dengan cantiknya.
Setelah
Meza bergabung dengan grup band yang digawangi Kak Beben, segala prestasi dan
popularitas dari penjuru sudut dikantongi Meza dan Bandnya. Berbagai pikiran
konyolpun lahir dari otakku untuk ingin berprestasi seperti Meza. Aku melakukan
berbagai hal gila di luar batas sadarku sebagai seorang yang cenderung culun. Dari
mulai ingin merancang fashion style
baru yang tidak kalah fashionable
dari yang di pakai Meza, sampai ingin mengutamakan ekskul daripada prestasi
akademikku. Di akhir tahun ajaran semester genap kelas X, diadakan festival
akustik sederhana antarkelas dengan membawakan lagu kreasi sendiri. Rasanya
waktu itu urat maluku sudah putus. Aku menciptakan lagu abal-abal dan aku
tunjukkan lagu itu pada Meza. Ternyata Meza suka dengan lagu abal-abalku. Aku
terdiam tak berkomentar. Aku lebih tersentak lagi waktu Meza meminta izin untuk
merekam laguku untuk ditunjukkan ke Kak Beben yang waktu itu adalah orang
terdekat Meza. Aku iyakan saja meskipun aku sadar nantinya kepercayaan diriku
akan meleleh karena malu bertatapan dengan Kak Beben yang menurut persepsiku terlihat
dingin dan perfeksionis terhadap musik. Dengan segala kebodohan, secara sadar aku
ambil nada awal. Dengan keterbatasan ukuran jari-jariku, aku menarikan jari-jariku
di atas kumpulan senar. Meza bernyanyi dengan wajah bahagia dan penuh galau
menaklukkan lirik dan nada abal-abal laguku. Tulus dan sangat indah. Sedangkan
aku, Jari-jariku menggenjreng dengan tidak sopan. Benar-benar lengkap
keabal-abalan laguku dan kualitas bermain musikku. Fokusku hampir tersita hanya
untuk memaksimalkan festival musik itu. Meza menunjukkan rekaman lagu
abal-abalku ke Kak Beben. Aku tahu tentang Kak Beben selama ini hanya dari
runtutan cerita Meza tapi tidak megenalnya dengan dekat. Kata Meza, hampir semua
alat musik bisa Kak Beben mainkan. Meza selalu menyodorkan cerita bahagia
tentang kebersamaannya dengan Kak Beben. Kak Beben terlihat sangat menyayangi
segala yang mendampinginya, dan Meza salah satunya. Kak Beben menjaga Meza
dengan segala kehangatan kasihnya.
Festival
musik untuk penutupan semester genap kelas X sudah dekat. Kelompok musikku dan
kelompok musik Meza latihan di tempat yang sama setiap harinya. Kak Beben selalu
ada di setiap Meza latihan dengan kelompok musiknya. Dia tidak pernah absen
ketika Meza membutuhkannya. Meza mengenalkanku dengan Kak Beben. Kak Beben memulai
dialog pertamanya denganku dengan bahasan lagu abal-abalku. Hampir ingin aku
sobek wajahku kemudian aku masukkan kantong dalam-dalam. Wajahku memerah dan aku
terserang bisu dadakan karena malu. Hanya nyengir untuk merespon Kak Beben yang
sangat semangat menilai laguku. Kak Beben tidak sedingin yang aku pikirkan. Dia
humoris dan ramah. Tidak bosan aku mendengarnya berceloteh ke sana ke mari. Aku
iri dengan Meza. Dia mempunyai seseorang yang begitu kuat menyayanginya. Dia dikelilingi
orang-orang yang benar-benar menyenangkan perasaannya.
Satu bulan
sudah aku habiskan sisa waktu luang dan belajarku untuk latihan musik. Aku
melakukan kesibukan berbau musik itu sampai saat pembagian nilai akhir semester
genap diumumkan. Segala kerepotan yang aku hasilkan dan berpikir yang
tidak-tidak, menghasilkan suatu grafik yang hebat di akhir semester genapku di kelas
X. Kejutan yang mahadahsyat. Rangkingku turun. Pupus sudah targetku masuk kelas
Internasional. Aku juga kehilangan pemimpinku. Ayah ku menghadap Sang Maha
Agung. Aku baru memulai sesuatu untukk Ayah tapi beliau sudah meninggalkanku.
Aku mulai berteman dengan kemalasan dan kepesimisan. Aku juga tidak lagi
berteman dekat dengan Meza yang merupakan salah satu teman terbaik yang kupunya.
Kita terpisahkan oleh hasil nilai sekolah kami. Aku di kelas unggulan sedangkan
Meza ada di kelas reguler. Hanya musik yang waktu itu tetap setia menunggu
proses ku menuju peningkatan yang baik. Ayah, Pestasi akademik, dan Meza
berbalik arah dan kemudian pergi jauh. Hal ini membuatku semakin semangat mengejar
prestasi di bidang musik.
Tahun
selanjutnya, aku berjuang sebagai pasukan putih abu-abu garda XI. Pada suatu
hari, di layar handphone ku muncul
pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Ternyata nomor itu nomor Kak Beben. Aku
mengobrol banyak dengan dia lewat SMS. Dia datang di tengah ke abu-abuan ku. Dia
benar-benar jauh lebih menyenangkan dari yang kulihat. Aku tak henti-hentinya
tersenyum selebar daun kelor mendengarnya berhumor. Aku dan Kak Beben semakin
intensif berkomunikasi. Tidak hanya lintas pesan singkat di hape, tapi juga
sering berada dalam setting kumpulan sosial yang sama. Aku dan Kak Beben berada
di ekskul yang sama. Band dia dan grup musik tradisionalku sering berkolaborasi
untuk ditampilkan dalam acara sekolah kami. Kami semakin akrab sebagai seorang
teman. Aku selalu berusaha menjadi tempat singgah yang nyaman ketika dia
menumpahkan semua ceritanya. Aku mengusahakan keluar dari kualitasku sebagai
seorang yang membosankan, kaku dan pendiam. Aku mengimbanginya.
Di tengah
semester ganjil garda XI, aku terkena penyakit Thypus. Aku harus absen bersekolah beberapa hari. Di hari pertamaku
absen sekolah, Kak Beben meneleponeku pada jam pulang sekolah dengan nomor hape
temannya.
“Haloo....wid!
ini Beben. Kamu di mana?” Sapanya dengan nada tergesa-gesa.
“Aku nggak masuk
sekolah Kak hari ini. Aku sakit.” jawabku dengan nada lemas seperti mau mati .
“Hah?? Sakit apa?
Kok gak kabarin aku?” Jawabnya kaget.
“Cuma gejala Thypus kok Kak. Doain cepet sembuh, ya!”
Jawab ku
“Cepet sembuh, yah!
Aku traktir ice cream kalo udah sembuh.” Jawabnya manis.
Percaya gak
percaya, kalimat terakhir dia ampuh mengembalikan kesehatanku. Dua hari
kemudian, aku bisa masuk sekolah dengan setengah kesehatan ku. Untuk orang lain,
mungkin hal seperti itu biasa. Untukku kalimat itu keramat. Aku tidak mendapat
perlakuan manja sebagai seorang bungsu dan perempuan dengan baik dari keluarga
ataupun lingkungan sekitarku. Semua menekan dan memaksaku untuk mandiri dan
tidak bermanja-manjaan ketika terbaring lemah tak sehat sekalipun. Tapi Kak
Beben selalu memberikan perlakuan yang kontras dengan yang orang-orang sekitarku
lakukan selama ini. Rasanya udara di pagi itu adalah udara tersegar yang pernah
aku hirup, matahari terindah yang pernah aku lihat, dan rohani yang baru dalam
jasmani yang usang.
Kelasku
berada di lantai tertinggi di gedung sekolahku. Aku bisa memantau apapun di seluruh
penjuru sisi sekolah. Bel masukpun berbunyi. Sepeda motor berwarna putih strip
merah dengan pengendara berjaket merah dan berhelm putih memasuki lapangan
sekolah. Aku mengenal figur dengan ciri-ciri itu. Dia adalah Kak Beben. Doa
untuk mulai pelajaranpun dibacakan. Aku yang berdiri di depan kelas seharusnya
duduk di dalam kelas ketika doa sedang dibacakan. Tapi keharusan berbalik arah
dan melangkah masuk kelas, tak aku pedulikan. Aku keluar dari aturan sekolah
tertulis yang terbingkai rapi dan menggantung di dinding-dinding kelas. Entah
kenapa ada rasa lega bisa melihatnya di pagi itu. Aku menyelesaikan sekolahku
hari itu dengan kesehatan yang meningkat drastis. Aku pulang dengan gembira. Ada
yang mengganggu pandangku di tengah jalan menuju rumah. Warna jaket yang aku
kenal mencolok mataku. Aku memicingkan mata, memastikan kalau aku memang kenal
dengan pemilik jaket itu. Yapp, seseorang yang sedang berjalan di depanku
adalah Kak Beben. Aku mengejar dan menyapanya. Dia kaget mendengar sapaku. Peristiwa
yang sangat manis. Aku pulang dengan hati yang terombang-ambing tak karuan.
Sesampainya di rumah, hapeku bergetar. Nama Kak Beben muncul di layar hape ku.
Tekan dan baca. Sekelompok huruf yang tergabung menjadi sebuah kalimat indah
perhatian muncul di layar hapeku. Rentetan peristiwa yang sangat manis dalam
hidupku. Besoknya dia mengajakku bertemu di sebuah rumah ice cream untuk memberikan jaket yang dibelinya ketika study tour beberapa bulan yang lalu dan
menyampaikan sesuatu. Aku datang dengan beberapa temanku. Dia terlihat kecewa.
Dia tidak banyak berbicara dan malah menyendiri di meja yang berbeda denganku. Entah
kenapa.
Desember
tanggal 12 pukul sebelas malam. Hapeku bergetar ketika aku tertidur pulas. Aku
bangun untuk membaca pesan itu. Nama Kak Beben muncul di layar hape. Rasa
ngantuk ku musnah dan enyah. Aku tercengang saat dia mengirim sms balasan
untukku. Dia mengirim sebuah pertanyaan singkat yang tidak pernah terpikir oleh
ku. Sekalipun saat senggangku.
“Wid...kamu
mau gak jadi pacarku ?” pesan singkat dari Kak Beben.
Aku melongo
kebingungan di tengah malam. Segala kemungkinan berputar di kepalaku. Apa
jangan-jangan kepala Kak Beben habis terbentur tembok Cina, sehingga kalimat
yang tidak wajar itu muncul. Atau mungkin juga dia keracunan makanan kemudian
kehilangan akal sehatnya, sehingga berhalusinasi sebegitu tinggi. Aku diam dan
tidak membalas pesan singkatnya. Dia memberiku ultimatum ringan. Jika aku
meminta jangka waktu untuk berpikir maka dia tidak mau tidur sampai dia
mendengar kata “IYA”. Kemudian aku mengiyakan pertanyaannya tanpa banyak
bertanya dan menuntut pernyataan indah dari dia.
Pagipun
datang. Aku bangun dengan sesuatu yang baru. Aku dan status. Aku hampir gila
membayangkan menjalani seru dan bahagianya hidup di setiap detikku bernafas
bersama dia di sampingku. Tertawa bersama dan berbagi beban hidup bersama. Aku
merasa Tuhan telah mengirimkan polisi hati dan segala kekacauan hidupku. Aku
semakin intensif bertukar cerita hidup dengannya lewat pesan singkat di telepone
genggam. Kami menyembunyikan status baru kami dari semua orang yang kami kenal.
Entah kenapa. Tapi kami nyaman dengan komitmen tersebut. Aku sangat nyaman sebagai
bayangan. Bersembunyi dan berbahagia di balik punggung hangatnya. Mungkin
karena aku tidak mau mengecewakannya dengan segala kurang ku. Gadis-gadis yang
pernah mendampinginya dulu jauh lebih baik dari kualitas ku. Satu-satunya hal
terbaik yang bisa ku lakukan untuk dia adalah melindungi kenyamanannya
bersosialisasi.
Berjalan
satu bulan,kami hanya bertatap muka di sekolah tanpa saling menyapa. Komunikasi
kami tidak lagi berkualitas dan berkuantitas. Dia berubah. Sulit di hubungi.
Padahal jembatan ku dan dia hanyalah pesan singkat telepone genggam. Komunikasi
rumit di tengah rasa sayangku yang kian detik kian mengembang. Aku memutuskan
menyudahi status kami sebagai sebuah pasangan. Aku menyerah dengan segala
benturan masalah dan kenyataan buruk yang muncul.
Kabar yang
tak aku inginkan masuk ke telingaku. Kak Beben dikabarkan sedang mendekati
salah seorang adik kelasku yang juga teman dekat sahabatku –namanya Wawa-. Aku
juga mendengar dari teman kalau Kak Beben datang ke sebuah acara bersama
seorang gadis yang sangat cantik. Aku mencoba menghubunginya di tengah masih
berjalannya status kami dan berantakannya hatiku. Tapi tak lagi mendapat respon
sebaik sebelum terpasangnya status ini. Aku bersabar beberapa hari. Hubunganku
dengan Wawa harus rela terobrak-abrik juga. Wawa mengira aku memojokkan posisi
adik kelas itu demi membela Kak Beben. Kusutlah persahabatanku dengan Wawa. Padahal
aku mengusahakan berada di posisi netral meskipun perih dan sedih
bersilaturahmi dalam perasaanku. Aku sudak tidak kuat tergencet di kondisi sesesak
ini. Aku tahu setelah ini hubunganku dengan Kak Beben tidak akan sebaik dulu.
Tapi aku tidak bisa menyakiti Kak Beben dengan membatasi geraknya untuk memilih
kebahagiaan yang lebih bahagia. Aku memilih mengalah untuk membiarkan Kak Beben
memilih bahagianya. Selama dua minggu setelah berakhirnya status hubungan ku
dengan Kak Beben, komunikasi lenyap. Meskipun hanya untuk tanya kabar satu sama
lain. Aku lemah ketika dia tidak hadir di sampingku. Aku mulai sadar bahwa
segala perubahan yang telah aku ciptakan selama bersamanya dari diriku karena
aku mencintainya. Dia cinta pertama yang mengunjungi hati dingin ku. Dia orang
pertama yang menunjukkan aku bahagianya cinta.
Rabu di
tengah siang, aku bertemu Kak Beben di kantin sekolah. Aku menunduk menahan
sakit. Sakit melihatnya melemparkan tatapan asing padaku. Teman-temannya melemparkan
lelucon yang membuat jantungku kembang kempis bahagia. Malam harinya, dia
menghubungiku lewat pesan singkat. Dia meminta hubungan itu berjalan kembali.
Aku langsung menjawab IYA. Aku tak mau kehilangan cintaku lagi. Aku butuh dia
untuk menjadi penyeimbang hidupku. Dua minggu berjalan, dia hilang tak
berjejak. Saling bertemu mata ketika di sekolahpun dia enggan melihatku. Inilah
puncak kesakitanku. Apakah ajakan itu tidak tulus dia ucapkan? Atau ada alasan
lain di balik semua sikapnya itu? Aku tak menemukan jawaban.
Pertemuan
terakhirku dengannya, ketika aku ikut mengisi di acara perpisahan sekolah pada angkatannya.
Perpisahan abadi. Setelah itu, aku kehilangan dia hingga sekarang. Dua tahun
lebih aku tidak berkomunikasi dengannya. Tertunduk lemah kehilangan dia,
berputar-putar oleh kenangan yang tertempel manis di otakku, berbuat sesuatu di
luar batas teraturku untuk memberi isyarat padanya kalau aku mengubah diri
menurut standar terbaiknya untuknya, merasakan terbentur perih saat merindukan
nya. Cerita yang aku tapaki bersama dia dari dulu hingga kini seperti secangkir
moccacino. Seruputan di kali pertama sangat manis, karena yang tertenggak
adalah cream pemanis di puncak cangkir. Ketika di ujung habisnya moccacino, rasanya
pahit dominan namun manis yang abadi menolongku untuk tetap senang menghabiskan
pahit yang tersisa di cangkir. Di awal ceritaku bersamanya, kesan senang dan runtutan tingkah
manisnya menghiasi gelap hidupku. Aku berani melangkah ke status yang lebih
tinggi karena manisnya meyakinkanku. Tapi di akhir ceritaku bersama dia,
berbagai benturan yang membuatku sesak dan perih datang tak permisi secara bertubi-tubi.
Namun bahagiaku bersama Kak Beben jauh lebih abadi dari pada pahit yang kau
sumbang ke hatiku secara dadakan. Aku tetap menyayangi dia tanpa ragu hingga
akhir cerita. Bahkan sampai perpisahan terakhirku kelak dengan dunia ini. Aku tetap
mengenang dan mematung dia di hatiku semanis kesan di awal kesempatan
mengenalnya. Aku bahagia mengenal dan dekat dengan dia. Aku bangga bisa
berteman dengan dia. Aku bersyukur telah diberi kesempatan oleh Tuhan bisa
mengenalnya. Kak Beben adalah orang terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk mendamaikan
kekacauan perasaan ku dan menciptakan senyum di setiap benturan pahit hidupku.