Aku NAGEA WIRA . Panggil saja aku wira. Aku 19 tahun. Saat jari-jari ku menari di atas keyboard laptop ku ini.Yang ada di pikiran ku adalah dia. Singkat kata dia adalah inspirasi ku dalam menulis coretan ini.
Dia??? Siapakah dia?? Ada apa dengan dia ?? kenapa dia menjadi obyek ku dalam coretan ini?? ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu.
Dia adalah kakak kelas ku saat di SMA. Namanya Ryan Andrea Rachmat. Biasa di panggil ryan. Dia paket lengkap di hidup ku. Teman terbaik yang pernah aku punya, kakak paling loyal buat anak terakhir kayak aku yang nggak pernah tahu bagaimana di manjakan , sahabat yang enggak pernah bosen kasih arah yang baik dan dengerin kicauan galau ku. Aku mengenal ryan dari teman sekelas ku yang kebetulan waktu itu bersahabat dekat denganku. Namanya Lenka. Ryan dan lenka kayak panci sama tutupnya. Mereka beda tapi klop. Sama –sama di satu ekskul, sama-sama di satu band, sama-sama punya life style yang seselera, sifat yang hampir sama tapi beda dalam cara berfikir. Dan aku?? Aku hanya murid biasa yang cenderung udik yang nyempil di antara mereka.
Posisi ku diantara mereka lebih sebagai tong kegalauan mereka di saat konflik silaturahmi pada pertemanan mereka. Ryan sering curhat tentang sebelnya dia terhadap ulah bandel lenka yang tidak dia sukai. Sebaliknya juga lenka. Dia sering membagi cerita saat mereka berkonflik. Aku sudah sangat bahagia meskipun sebagai tong kegalauan mereka. Mengingat aku hanya murid berpenampilan udik tapi bisa berteman baik dengan murid beken seperti lenka dan ryan. Detail-detail ulah lenka tidak pernah lengah oleh mata ryan. Ryan benar-benar memposisikan lenka sebagai yang pertama dan terpenting yang harus dia pantau. Aku pernah menanyakan hal ini pada ryan di tengah-tengah obrolan kami. Kenapa lenka begitu dia istimewakan?? Ryan menjawab kalau lenka mirip dengan adikknya yang sudah empat tahun tidak dia temui. Hanya itu dan sebatas itu sikap dan perasaan ryan pada lenka.
Aku tidak berusaha mengais –ngais jawaban lebih, karena hal itu tidak terlalu penting buat ku waktu itu. Aku juga ada di satu ekskul denga ryan dan lenka. Pada suatu kesempatan, ryan dan lenka datang di meeting ekskul tidak bebarengan. Aneh?? Pasti mereka lagi berkonflik. Biasanya mereka selalu datang bebarengan. Untuk saling sapa menyapa saja tidak mereka lakukan ketika itu. Hmmm…jelas ini konflik besar. Tapi kali ini lenka maupun ryan tidak membagi cerita pada ku seperti biasanya.
Sepulang dari ekskul, layar handphone ku memunculkan sms bertuliskan ryan sebagai sender. Tapi kali ini beda. Selama komunikasi ku dengan ryan lewat sms waktu itu. Dia tidak menyentil masalah lenka sama sekali. Kita mengkomunikasikan tentang kehidupan kita masing-masing. Dia menanyakan tentang apa saja yang ada di hidupku. Dia juga menceritakan segala sesuatu yang ada di hidupnya. Bahkan yang berbau agak privasi pun dia bagikan ke aku. Aneh?? Kenapa membahas aku, sesuatu yang selama ini hampir seperti tidak terlihat. Kenapa terkesan saling berbagi untuk saling mengenal lebih dekat. Aku memang nyata di antar mereka, tapi aku kan ada Cuma di saat mereka bermasalah saja. Beralih sikap ke aku. Aku tidak begitu memusingkan hal ganjil tersebut ketika itu. Beberapa bulan kemudian, intensitas komunikasi ku dengan ryan semakin sering. Aku jauh lebih akrab dengan ryan dari pada lenka. Tidak sempat aku memikirkan kenapa ryan bisa tidak begitu peduli lagi dengan lenka malah mengintensitaskan komunikasi dengan cewek kutu buku yang nggak modis ala aku ini.
Aku begitu nyaman berteman dekat dengan ryan. Dia jauh lebih baik dari penilaian awal ku buat dia. Semua teman ku mempermasalahkan aku yang seorang kutu buku bisa bersahabat dengan anak band begajulan ala ryan. Aku nggak sama sekali peduli dengan koment teman-teman ku. aku jauh lebih tau bagaimana ryan dari pada mereka. Di saat aku jatuh dan butuh motivasi pun, bukan teman-teman yang datang dan menopang ku yang hampir lemah dan jatuh mental. Tapi ryan yang menguatkanku dengan kalimat-kalimat sederhana tapi sangat memotivasi ku untuk menatap sesuatu yang hebat dan tidak terlihat di depan ku. Dia menciptakan senyum ku kembali hadir dengan begitu mudahnya. Dia juga banyak mengajari ku untuk lebih menjadi cewek yang humble dan teman yang menyenangkan ketika bersosialisasi. Dia memang bukan cowok yang baik di mata agama. Tapi dia selalu menghargai dan bersikap sangat baik pada ku. Bahkan ikhlas untuk menyesuaikan dengan pribadi ku yang kontras dengan pribadinya.
Aku dan ryan berada pada lintasan pikiran dan gaya hidup yang berbeda. Dia adalah cowok yang tidak begitu agamis. Dia hidup dengan santai dan jarang memikirkan sesuatu yang berat dalam hidup. Dia hidup untuk apa yang dia suka saja. Sedangkan aku! Hidupku penuh pertimbangan dan perencanaan. Salah mengambil tapakan akan mengecewakan orang-orang di sekitarku. Kondisi keluargaku tidak sebaik kondisi keluarga ryan. Jarang aku berpikir sesantai ryan dalam hidup ku. aku juga tidak pernah berani berulah yang melebihi kapasitas ku sebagai seorang kutu buku. Adrenalin ku memuncak ketika aku akan melakukan sesuatu yang terhardik sebagai larangan di otakku. Jadi aku bersikap aman dan berusaha tak melirik larangan sedikit pun.
Bulan desember pun datang. Aku bersahabat dengan ryan tanpa sepengetahuan lenka. Karena Aku dan lenka sudah tidak berada di kelas yang sama lagi. Jadi kami sudah tidak begitu saling tahu kehidupan satu sama lain. Dia sudah tidak ada di tengah aku dan ryan. Tiap aku singgung tentang lenka, ryan mengeluarkan protes. Tapi aku tetap mengusahakan untuk mereka bersahabat baik lagi. Aku tahu sekali kalau lenka penting untuk ryan. Meskipun masih abstrak kejelasannya. Tidak tahu hanya sebatas adik atau lebih??
Waktu itu bulan desember 2009 pukul 23.00 kurang lebih. Telephone genggam ku bergetar. aku memicingkan mata ke arah layar hape (handphone) ku, ada sms dari ryan ternayata. Dia bilang kalau mau menyampaikan sesuatu. Aku iya-iya aja di tengah-tengah ngantuk yang menggila. Oh god… seketika hilang ngantukku setelah baca apa yang mau dia omongin. Ryan nembak aku di tengah malam gitu. Semerawut pikiranku. Kenapa dia bisa bilang seperti itu?? Salah makan kah?? Atau habis kejedot??
Aku terus mengejar dia dengan berbagai pertanyaan yang berdasar dari rasa aneh ku. Mustahil bin nggak mungkin cowok modis, anak band, pokoknya yang biasa pacaran sama cewek-cewek yang charming tiba-tiba nembak cewek biasa , udik , dan kutu buku kayak aku. Aku ingat sangat waktu dia bilang nggak akan tidur sampe aku jawab iya ke dia. Aku bingung tapi juga senengJ. Akhirnya aku jawab iya.
Desember tanggal 13 di tahun 2009, aku bangun dengan jiwa yang beda. Ada rasa seneng yang kelewat batas bercampur rasa bertanya-tanya yang marathon terus di pikiranku. Sehari…dua hari….tiga hari….aku jalani hubungan itu secara diam-diam dari seluruh umat di sekitar kita. Aku nggak ngerti kenapa dia begitu. Dia pacar pertama ku. Aku nggak berani banyak Tanya dan ulah selama menjalin hubungan itu dengan dia. Dia menciptakan komitmen seperti itu, dan mau tidak mau aku harus ikutin caranya
Selama jalannya komitmen itu, aku benar-benar merasa di bahagiakan ryan. Kali pertama aku tahu rasanya di manjakan, kali pertama itu aku tahu rasanya di sayangi, kali pertama itu aku tahu indahnya keluar dari tempurung dengan jiwa seseoarang yang menyenangkan bukan sebagai seorang yang membosankan. Dia membuat aku jauh lebih baik dan nyaman saat berada di lingkungan bersosialisasi. Banyak hal indah yang telah ryan lukiskan pada hidupku. Dia tidak menyadari itu mungkin. Karena mungkin hal tersebut sudah wajar dia lakukan dengan pacar-pacar dia sebelumnya. Sedangkan aku. Itu kali pertama aku mendapat perlakuan seperti itu. Aku tersadar kalau dunia ku yang selama kurun waktu 10 tahun kebelakang sangat irit akan kebahagiaan ternyata sekarang bisa aku nikmati dari sisi yang membahagiakan. Aku simpan benar detail demi detail hal-hal tersebut.
Aku juga banyak melakukan hal gila buat imbangin dia. Ini bentuk timbal balikkku karena dia juga banyak melakukan sesuatu yang keluar dari pribadi ryan yang sebenarnya. Aku mengusahakan untuk jadi yang terbaik buat dia. Aku terus-terusan melakukan observasi. Aku teliti semua mantan-mantanpacar ryan. Cewek yang seperti apa yang dia suka. Aku benar-benar telah keluar dari batas kenormalan ku. Aku memulai hal gila ku dengan merubah penampilan udikku menjadi lebih enak buat dilihat minimal. Aku mengusahakan penampilan ku semodis ryan . Tapi sepertinya usahaku tidak menghasilkan sebuah perubahan di mata ryan. Sampai suatu saat muncul di pikiranku untuk memplagiat lenka yang notabene sangat ryan sayangi. Itu pekerjaan sia-sia ternyata. Ryan tak sama sekali menoleh ke aku. Justru dia malah jauh dari aku. Hubungan kita hanya bertahan kurang dari 2 bulan dengan satu kali putus nyambung. Banyak masalah yang muncul tapi tak berani aku serukan ke ryan. Aku diam dan menyimpan itu sendiri. DAn akhirnya aku dan ryan benar-benar sudah tidak berstatus pasangan lagi.
Aku merasa ada yang hilang. Bagian terpenting kini telah menghilang. Tapi aku tidak memperkenakan diriku kembali menjadi aku yang membosankan dulu. Aku mematenkan sifat-sifat yang ryan ajarkan secara tidak langsung pada ku. aku dan ryan kembali berteman tapi tidak seakrab dulu. Sedih….menyesal….kecewa. kenapa aku mengambil keputusan seperti itu. Tapi kalau tidak di akhiri. Aku yang akan menanggung sakit yang terlewat sakit. Sedangkan ryan mungkin akan dengan mudah menutupku di lembar masa lalunya dan membuka lembar yang baru yang mungkin jauh lebih indah.
Jarang say hello saat berpapasan. Komunikasi tidak seintensif dulu. benar-benar tidak seperti dulu. inilah yang aku takuti saat akan menjawab iya untuk berkomitmen dengannya. Takut untuk kehilangan dia. Dia teman yang selalu menyumbang aksi untuk buatku tersenyum ketika dalam keadaan yang sulit. Dia sahabat yang selalu memberi kebahagiaan. Susah untukku melepas dia dari kehidupanku yang irit akan kebahagiaan. Ryan dan aku mulai jarang berkomunikasi…jarang saling menyapa…jarang bertemu dan akhirnya secara bertahap ryan menghilang dari hidupku. Ryan terlihat enggan berteman lagi denganku. Sedih ku menjadi saat aku merasa rindu yang semakin hari semakin menggila dan hanya berhenti sebagai perasaan yang tidak mendapat jawaban.
Aksi gilaku semakin menggila. Aku benar-benar merubah diri ku untuk ryan. Ryan tipe orang yang humoris dan humble. Aku berpikir kalau aku bisa menjadi sama seperti sifat yang dia punya maka dia akan melihat ku kembali dan merasa nyaman dengan ku. Aku pantengin acara-acara komedi dari yang menghibur sampai yang kacangan. Aku belajar humble di hadapan teman-teman dekatku terlebih dahulu. Itung-itung training kalau nanti punya kesempatan bertemu satu lokasi lagi dengan ryan aku sudah mengantongi sifat humble yang alami di diriku. Tapi nonsen! Ryan tak pernah Nampak di mataku. Sekalipun kita masih bersekolah di sekolah yang sama.
Tak berhenti sampai di situ. Aku melakukan hal di luar batas kenormalanku. Aku tahu kalau ryan suka dengan music rock. Aku paksa keras batinku yang mellow ini untuk menerima aliran music rock. Berharap dia tahu kalau aku juga suka apa yang dia suka jika nanti ada kesempatan untuk bertemu dia. Aku jejelin music rock dari beberapa band rock favorit ryan. Hampir menjadi rutinitas wajib ku. Sampai pada akhirnya aku benar-benar kecantol dengan genre music yang satu ini. Aku hampir nangis meronta-ronta tiap mendengar sebuah lagu dari band rock western favorit ryan. Aneh bin ajaib, enggak sama sekali merasa berisik atau risih justru sedih membabi buta yang aku rasa. Cara ini pun tidak cukup ampuh mengembalikan ryan kepada ku lagi.
Hari kelulusan ryan pun datang. Aku mendapat kesempatan menjadi pengisi acara di acara wisudaan ryan. Aku semakin galau. Semakin jelas bentangan pisah antara aku dan ryan. Kesempatan untuk berkomunikasi pun mungkin akan menghilang juga. Ryan hanya menyapa ku karena ada lenka di sebelahku. Itu hal indah terakhir yang bisaaku simpan.
Aku putuskan untuk berkata jujur pada ryan tentang apa yang aku rasa ke dia. Batas sadarku menghilang….urat maluku telah terputus dan otakku semiring menara colloseum mungkin waktu itu. Tak cukup ampuh dan membantu sepertinya cara ini. Ryan tampak bersalah dan malah menjauhkan dirinya dari ku.
Sampai akhirnya lelah aku terus mencoba berbagai kegilaan yang tidak berujung keberhasilan. Aku tenangkan diri sesaat dari berbagai kegilaan dan hal yang membuatku ingat akan ryan. Hampir bisa dikatakn aku bertapa untuk mendapat jawaban dari apa yang terbaik yang harus aku lakukan. Aku putuskan untuk mematenkan berbagai hal gila yang telah aku lakukan sebagai sifat paten ku. Bukan berharap untuk di toleh oleh ryan tapi untuk kebaikan ku semata. Aku sadar jika aku terus-menerus menghantuinya dengan tingkah dan rasa ku ini. Kasihan ryan. Aku putuskan mengalah dan belajar menguruk rasa yang telah menggunung ini secara perlahan.
“ryan…. Terima kasih untuk memperbolehkan aku memiliki rasa yang sepihak ini. Terima kasih telah memberi kesempatan untuk pernah menjalani sebuah status yang indah bersamamu. Tidak bisa aku pastikan kapan akan musnahnya rasa sayang ku kepada kamu ini. Demi kebaagian mu , aku mengalah untuk mengikis rasa ini. Terima kasih telah membantu ku melupakanmu dengan cara yang baik (menjauhiku tanpa penjelasan). . . itu mungkin memang cara yang terbaik. Semoga kamu selalu dilimpahi kebahagaan oleh Tuhan.”
hasil imajinasi orang galau :)
BalasHapus