15 tahun lalu...
Seorang gadis kecil lugu menari-nari riang di bawah redupnya senja yang tlah di sambut oleh sang malam. Riang tawa dari bibir mungilnya memecah redupnya senja kala itu. Bahagia begitu terpancar dari mata bulatnya saat dia tengadahkan wajah lugunya ke atas langit. Indahnya langit senja, yang begitu jingga dan hangat terlihat itu membuat gadis kecil itu enggan bergeming dari tempatnya berdiri dengan senyum yang merekah dan mimik kagum penuh bangga akan lukisan Sang Maha Pencipta tersebut.
Hampir lima menit ...gadis lugu tersebut berdiri tegap di bawah sang senja sambil memicingkan mata bulatnya. Sampai dia pastikan senja itu benar-benar menghulang dari pandangannya . Tenggelam...termakan oleh bumi.
kini, gadis itu beranjak remaja. Setiap dentingan jam yang memungkinkan datangnya sang senja. Dengan sigap dan pasti , gadis lugu itu berlari dengan satu tujuan. Berdiri di tempat di mana lima belas tahun lalu dia berada untuk menyaksikan indahnya senja. Lima menit lebih ,,,penantian akan datangnya senja dia lakukan. Tak berapa lama setelah penantian panjangnya,,,sang senja muncul untuk menyapa gadis itu. Tapi kali ini berbeda. Senja itu hanya menyapa gadis itu di balik gumpalan awan hitam yang terlihat jahat. Tak sedikitpun si awan jahat itu memberi ruang pada sang senja untuk tampil dan di kagumi. Awan-awan itu berasal dari bangunan-bangunan raksasa yang berlapis kaca mengkilap. Bangunan-bangunan itu telah meluluh lantakkan kenangan indah masa kecil si gadis.
Dengan langkah layu dan tapakan yang tak pasti,,,gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri. Dia pergi dengan menggenggam rindu yang teramat sangat akan hadirnya kembali sang senja. Dan itulah terakhir kali gadis itu berdiri di tempat itu untuk menyapa sang senja .
NULIS DENGAN HATI YANG AWUT-AWUTAN
BalasHapus